Soal menang kalah
Semalem, sekitar jam 12 tengah malah, HP gue berdering. Satu SMS masuk :"Bensin ada. Antrian cuma 8 mobil. Cepetan kalo mau beli bensin".
Mobil gue, yang jarum indikator bensinnya sudah di bawah garis merah, emang sudah lama merindukan bensin. Sudah hampir satu bulan terakhir, pasokan BBM ke hutan gue tinggal ini, tersendat-sendat. Antrian mobil panjangnya kayak ular, jadwal kedatangan truk tangki BBM yg tidak jelas, plus sekali datang, hanya dalam waktu 1-2 jam, bensin langsung ludes. Jadi intinya, susah banget lah mau dapetin bensin.
Maka gue terpaksa bangun, dengan terkantuk-kantuk ganti baju, dan segera turun ke bawah. Gue sekalian bawa jerigen isi 20 liter, buat bensin cadangan di rumah. Dengan kecepatan "agak tinggi", gue ngebut ke SPBU satu-satunya di kota tercinta ini. Takut kalo bensin habis atau SPBU nya tutup. Thanks God, sampe di sana, ternyata tidak ada antrian bensin. Gue langsung datang dan ngisi dengan cepat. Tapi pas mau ngeluarin jerigen, gue liat ada orang-orang yang duduk nungguin di pinggiran dengan terkantuk-kantuk, dengan jerigen kecil isi 5 literan di samping mereka. Mereka adalah para tukang ojek dan penjual bensin eceran di kampung-kampung. Sesuai peraturan SPBU, mereka harus menunggu semua mobil selesai mengisi bensin, baru mereka dapat jatah di saat akhir.
Gue terperangah dan sangat malu. Gue bisa aja minta isi jerigen gue yang segede bagong itu dengan bensin, terus tinggal pergi. Gue kenal baik dengan pemilik SPBU, jadi sudah pasti tidak ada masalah. Gue bisa dengan tenang pergi dengan bensin di tangki mobil terisi penuh, dan cadangan bensin 20 liter di rumah. Tapi masalahnya adalah, gue tidak akan pernah merasa tenang jika gue melakukan itu.
Bagi gue, bensin hanyalah soal sekunder.
Tapi bagi para tukang ojek dan penjual bensin eceran itu, beli bensin adalah soal makan atau tidak esok hari. Tidak ada bensin, mereka tidak akan bisa ngojek. Mereka tidak ngojek, berarti tidak pemasukan. Tidak ada pemasukan, berarti tidak ada uang untuk beli makan. Dan sudah pasti, akan ada beberapa mulut anak istri yang kelaparan di rumah mereka.
Gue seharusnya bisa saja merasa "menang", karena bisa meninggalkan SPBU di tengah malam itu dengan bensin yang berlimpah.
Tapi hidup memang bukan soal menang kalah belaka. Hidup juga soal bagaimana anda bisa berempati terhadap posisi orang lain yang lebih susah. Gue akhirnya mundur, karena memang mereka jauh lebih punya hak untuk membeli bensin ketimbang gue dengan jerigen gue.
Karena bagi mereka, itu soal hidup, soal makan atau tidak.
Dalam kegelapan malam, gue merasa malu dengan diri gue sendiri.
Pedal diinjak, mobil melesat meninggalkan lampu-lampu SPBU di belakang.
Gue hampir saja kalah tadi. Kalah melawan hawa nafsu gue sendiri.....
Mobil gue, yang jarum indikator bensinnya sudah di bawah garis merah, emang sudah lama merindukan bensin. Sudah hampir satu bulan terakhir, pasokan BBM ke hutan gue tinggal ini, tersendat-sendat. Antrian mobil panjangnya kayak ular, jadwal kedatangan truk tangki BBM yg tidak jelas, plus sekali datang, hanya dalam waktu 1-2 jam, bensin langsung ludes. Jadi intinya, susah banget lah mau dapetin bensin.
Maka gue terpaksa bangun, dengan terkantuk-kantuk ganti baju, dan segera turun ke bawah. Gue sekalian bawa jerigen isi 20 liter, buat bensin cadangan di rumah. Dengan kecepatan "agak tinggi", gue ngebut ke SPBU satu-satunya di kota tercinta ini. Takut kalo bensin habis atau SPBU nya tutup. Thanks God, sampe di sana, ternyata tidak ada antrian bensin. Gue langsung datang dan ngisi dengan cepat. Tapi pas mau ngeluarin jerigen, gue liat ada orang-orang yang duduk nungguin di pinggiran dengan terkantuk-kantuk, dengan jerigen kecil isi 5 literan di samping mereka. Mereka adalah para tukang ojek dan penjual bensin eceran di kampung-kampung. Sesuai peraturan SPBU, mereka harus menunggu semua mobil selesai mengisi bensin, baru mereka dapat jatah di saat akhir.
Gue terperangah dan sangat malu. Gue bisa aja minta isi jerigen gue yang segede bagong itu dengan bensin, terus tinggal pergi. Gue kenal baik dengan pemilik SPBU, jadi sudah pasti tidak ada masalah. Gue bisa dengan tenang pergi dengan bensin di tangki mobil terisi penuh, dan cadangan bensin 20 liter di rumah. Tapi masalahnya adalah, gue tidak akan pernah merasa tenang jika gue melakukan itu.
Bagi gue, bensin hanyalah soal sekunder.
Tapi bagi para tukang ojek dan penjual bensin eceran itu, beli bensin adalah soal makan atau tidak esok hari. Tidak ada bensin, mereka tidak akan bisa ngojek. Mereka tidak ngojek, berarti tidak pemasukan. Tidak ada pemasukan, berarti tidak ada uang untuk beli makan. Dan sudah pasti, akan ada beberapa mulut anak istri yang kelaparan di rumah mereka.
Gue seharusnya bisa saja merasa "menang", karena bisa meninggalkan SPBU di tengah malam itu dengan bensin yang berlimpah.
Tapi hidup memang bukan soal menang kalah belaka. Hidup juga soal bagaimana anda bisa berempati terhadap posisi orang lain yang lebih susah. Gue akhirnya mundur, karena memang mereka jauh lebih punya hak untuk membeli bensin ketimbang gue dengan jerigen gue.
Karena bagi mereka, itu soal hidup, soal makan atau tidak.
Dalam kegelapan malam, gue merasa malu dengan diri gue sendiri.
Pedal diinjak, mobil melesat meninggalkan lampu-lampu SPBU di belakang.
Gue hampir saja kalah tadi. Kalah melawan hawa nafsu gue sendiri.....
