Saturday, September 24, 2005

Soal menang kalah

Semalem, sekitar jam 12 tengah malah, HP gue berdering. Satu SMS masuk :"Bensin ada. Antrian cuma 8 mobil. Cepetan kalo mau beli bensin".

Mobil gue, yang jarum indikator bensinnya sudah di bawah garis merah, emang sudah lama merindukan bensin. Sudah hampir satu bulan terakhir, pasokan BBM ke hutan gue tinggal ini, tersendat-sendat. Antrian mobil panjangnya kayak ular, jadwal kedatangan truk tangki BBM yg tidak jelas, plus sekali datang, hanya dalam waktu 1-2 jam, bensin langsung ludes. Jadi intinya, susah banget lah mau dapetin bensin.

Maka gue terpaksa bangun, dengan terkantuk-kantuk ganti baju, dan segera turun ke bawah. Gue sekalian bawa jerigen isi 20 liter, buat bensin cadangan di rumah. Dengan kecepatan "agak tinggi", gue ngebut ke SPBU satu-satunya di kota tercinta ini. Takut kalo bensin habis atau SPBU nya tutup. Thanks God, sampe di sana, ternyata tidak ada antrian bensin. Gue langsung datang dan ngisi dengan cepat. Tapi pas mau ngeluarin jerigen, gue liat ada orang-orang yang duduk nungguin di pinggiran dengan terkantuk-kantuk, dengan jerigen kecil isi 5 literan di samping mereka. Mereka adalah para tukang ojek dan penjual bensin eceran di kampung-kampung. Sesuai peraturan SPBU, mereka harus menunggu semua mobil selesai mengisi bensin, baru mereka dapat jatah di saat akhir.

Gue terperangah dan sangat malu. Gue bisa aja minta isi jerigen gue yang segede bagong itu dengan bensin, terus tinggal pergi. Gue kenal baik dengan pemilik SPBU, jadi sudah pasti tidak ada masalah. Gue bisa dengan tenang pergi dengan bensin di tangki mobil terisi penuh, dan cadangan bensin 20 liter di rumah. Tapi masalahnya adalah, gue tidak akan pernah merasa tenang jika gue melakukan itu.

Bagi gue, bensin hanyalah soal sekunder.

Tapi bagi para tukang ojek dan penjual bensin eceran itu, beli bensin adalah soal makan atau tidak esok hari. Tidak ada bensin, mereka tidak akan bisa ngojek. Mereka tidak ngojek, berarti tidak pemasukan. Tidak ada pemasukan, berarti tidak ada uang untuk beli makan. Dan sudah pasti, akan ada beberapa mulut anak istri yang kelaparan di rumah mereka.

Gue seharusnya bisa saja merasa "menang", karena bisa meninggalkan SPBU di tengah malam itu dengan bensin yang berlimpah.
Tapi hidup memang bukan soal menang kalah belaka. Hidup juga soal bagaimana anda bisa berempati terhadap posisi orang lain yang lebih susah. Gue akhirnya mundur, karena memang mereka jauh lebih punya hak untuk membeli bensin ketimbang gue dengan jerigen gue.
Karena bagi mereka, itu soal hidup, soal makan atau tidak.

Dalam kegelapan malam, gue merasa malu dengan diri gue sendiri.
Pedal diinjak, mobil melesat meninggalkan lampu-lampu SPBU di belakang.

Gue hampir saja kalah tadi. Kalah melawan hawa nafsu gue sendiri.....

Kurang Gaul - Part II

Kembali ke pembicaraan "kurang gaul", rasanya emang perlu sedikit digauli lebih dalam.
Saat gue bicara konteks, maka yang gue bicarakan adalah satu bentuk pemahaman yang tidak bisa digeneralisir. Konteks, adalah rujukan yang tidak sempurna terhadap pemahaman harfiah dan komprehensif suatu istilah. Konteks, hanya menghubungkan - dan bukan menjelaskan (apalagi secara menyeluruh) suatu istilah.
Itulah yang gue maksud konteks "kurang gaul" dalam dunia peradilan di Indonesia. Tidak perlu ada penjelasan panjang lebar dulu tentang apa itu yg dimaksud "kurang gaul", karena memang inti pembahasan bukanlah soal "kurang gaul"nya. Esensinya adalah, kurangnya kepekaan penegakan hukum dari aparat peradilan, khususnya terhadap kasus-kasus KKN dan politik, dimana yang bermain adalah mafia-mafia peradilan yang sudah di"book" oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memuluskan ambisinya.

Jadi, konteks kurang gaul yang dimaksud adalah, kurangnya kepekaan para hakim di PT Jabar terhadap tuntutan rasa keadilan masyarakat terhadap proses demokrasi, khususnya pada Pilkada Depok di tingkat PT Jabar.

Kadang emang bahasa konteks, susah mau dipahami oleh semua orang, karena memang bahasa konteks bukan bahasa ilmiah, apalagi akademis yang penuh aturan dan kaku terhadap titik koma dan lain-lain. Bahasa konteks, lebih mengangkat isinya, bukan istilahnya.

Anyway, nice to know that somebody gives some arguments.
But, as always, It's not good to know that somebody judged you in the bad way...

Hhmmm.... Kurang Gaul part II? Rasanya kurang keren....
Kalo gue ganti jadi Kurang Gaul - Reloaded.... gimana yah.....
Jadi kayak judul film donk.... :P

Wednesday, September 21, 2005

Kurang Gaul

Gara-gara kurang gaul, banyak orang yang mengalami masalah dengan lingkungannya. Pada saat orang-orang pada demam piala dunia, orang kurang gaul biasanya malah kena demam beneran saat diajak bicara tentang piala dunia.
Atau pada saat orang sedang demam bicara tentang flu burung, orang kurang gaul malah akan demam beneran saat diajak diskusi tentang flu burung.

Saat ini, salah satu kelompok profesi yang menurut gue kurang gaul, adalah para aparat peradilan seperti hakim dan jaksa. Pada saat kita-kita sedang demam berat untuk berantas korupsi, para hakim dan jaksa malah jadi telmi 1000% saat memutuskan perkara-perkara korupsi. Pada saat kita demam keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu, para hakim dan jaksa malah menegakkan bulu mereka dan merobohkan keadilan. Contoh paling nyata adalah, saat Pengadilan Tinggi Jawa Barat menganulir keputusan KPUD Pilkada kabupaten Depok, dengan menggunakan argument yang tidak adil dan data-data yang juga tidak adil. Akibatnya kurang gaul itulah, mereka panen protes dan demonstrasi.

Jadi, gak ada salahnya frekuensi gaul kita ditingkat kualitas dan kuantitasnya.
Hidup gaul!!

Thursday, September 08, 2005

Pendidikan

Gue lagi mikirin soal kualitas dan kuantitas pendidikan di Indonesiaku yang tercinta ini. Berusaha memisahkan antara fakta dunia pendidikan saat ini, dengan harapan-harapan dan mimpi-mimpi tentang bagaimana seharusnya pendidikan yang ideal itu tercapai.

Pertama, faktanya dulu deh.
Fakta bahwa saat ini dunia pendidika Indonesia sangat carut marut, tidak punya arahan yang jelas, tidak punya strategi jangka panjang dan target yang jelas untuk dicapai. Kebijakan-kebijakan pendidikan dibuatkan bersifat jangka pendek, sering berubah-ubah, dan tidak mempunyai standard mutu yang jelas. Yang populer adalah istilah : ganti menteri ganti kebijakan.

Fakta bahwa saat ini, dunia pendidikan sudah sangat mahal dari sisi biaya. Alasan yang dijadikan adalah, bahwa pendidikan yang berkualitas, salah satu syaratnya adalah mempunyai fasilitas yang memadai, dan sebagian besar biaya-biaya yang mahal tersebut, ditujukan untuk prasarana sekolah. Yang lebih parah lagi adalah, saat ini pendidikan sudah menjadi ajang bisnis untuk mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya. Sudah bukan rahasia, saat ini biaya masuk ke sekolah-sekolah favorit atau perguruan tinggi negeri ternama, memungut biaya yang sangat mahal dan cenderung tidak masuk akal. Bahkan ada perguruan tinggi yang lebih mahal dibandingkan dengan biaya jika sekolah di luar negeri. Dewasa ini, pendidikan memang bukan untuk orang miskin.

Fakta bahwa, pendidikan di Indonesia gagal menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan punya daya saing tinggi. Hasil penelitian lembaga independent international, menunjukkan kualitas SDM di Indonesia jauh di bawah kualitas SDM Malaysia, Thailand, Singapore, Filipina, bahkan Vietnam! Sangat menyedihkan!

Fakta bahwa, disebagian sekolah di Jakarta, aktivitas tawuran dan perkelahian antar sekolah sudah menjadi tradisi dan kebanggaan. Pendidik, gagal memberikan arahan dan bimbingan untuk membentuk manusia-manusia dengan pola pikir dan perilaku yang baik.

Padahal harapan-harapan yang tinggi akan kualitas pendidikan di Indonesia, sudah dari dulu ada. Sayangnya, harapan tinggal harapan, karena tidak ada strategi yang jelas untuk me-realisasikan segudang harapan dan mimpi.

Bisa jadi, untuk bermimpi pun kita sudah tak berani lagi... karena terlalu mahalnya biaya pendidikan di negeri ini....

Wednesday, September 07, 2005

Ngantoek...

Siang abis makan gini, emang jamn paling pas kantuk datang menyerang. Mata ini rasanya tinggal punya daya 5 watt doank. Berat banget mau dibuka. Pikiran apalagi, udah jelas gak bisa konsentrasi. Bawaannya pengen tidur aja.

Inilah gak enaknya jadi pekerja, ruang "ngantuk" nya terbatas. Tuntutan kerja yang profesional, harus mampu mengalahkan kantuk yang menggoda. Konsentrasi harus dipertahankan, ritme kerja harus tetap tinggi.

Whhooouuuaaamm!!
Ngantoek kembali datang....
Di layar monitor pun serasa ada bintang...
pikiran melayang...
pengen tidur tapi....
bos datang menendang!!

Salam ngantoek!!!

Tuesday, September 06, 2005

Self Motivation

Gue lagi demen banget ama satu kalimat yang gue baca di salah satu iklan tentang training motivasi : If better is possible, Good is not enough

Entah mengapa, gue suka banget! Kalimatnya sendiri maknanya sangat jelas : Jangan pernah merasa berhenti untuk melakukan perbaikan demi perbaikan alias dalam bahasa Inggrisnya - Continous Improvement. Jangan pernah puas dengan hasil yang telah dicapai dan selalu merasa kita bisa melakukan hal tersebut dengan lebih baik dan lebih baik lagi.

Banyak orang-orang sukses, dengan melakukan self motivation yang terus menerus. Memotivasi diri sendiri secara terus menerus, adalah salah satu cara yang menurut gue, bisa diterapkan oleh siapa saja secara gratis dan gampang. Tinggal bagaimana cara memotivasi diri sendiri saja, yang mungkin berbeda-beda untuk tiap orang. Misalkan dulu waktu gue memotivasi supaya bisa lulus kuliah tepat waktu sesuai target, gue menempel segala macam kalimat pembangkit semangat (bukan pembangkit libido, lho.. hehehe.. ) di dalam kamar kost gue. Sampe di dinding di samping bantal juga gue tempelin kalimat-kalimat "sakti" tersebut. Hasilnya sih lumayan memecut semangat juga.

Satu lagi, ada memang orang yang mempunyai karakter "tidak mau kalah" dan selalu ingin jadi yang terbaik. Mereka tidak ingin menjadi nomor dua, khususnya di bidang-bidang yang mereka sukai. Orang-orang seperti ini, tidak memerlukan kata-kata pembangkit semangat. Mereka bisa saja tertantang dengan kompetisi yang ketat, atau environment yang memang kondusif untuk berkembang maksimal. Jenis orang-orang ini biasanya yang menjadi orang besar, orang sukses. Kegagalan, bukan membuat mereka jatuh. Tapi justru, membuat mereka semakin bersemangat untuk lebih baik dan lebih baik lagi. Contoh paling nyata jenis orang seperti ini, adalah pembalap sepeda asal Texas, Lance Amstrong. Amstrong memecahkan rekor menjuarai balap sepeda paling bergengsi di dunia, Tour 'de France selama 6 kali berturut-turut, justru setelah dia diagnosis menderita kanker prostat ganas dengan harapan hidup di bawah 50%. Tapi dengan pengobatan dan usaha tanpa kenal menyerah, Amstrong akhirnya divonis sembuh total dari kanker. Dan selanjutnya, dia menjadi legenda dengan comeback yg mengesankan di dunia balap sepeda yang sangat menuntut stamina dan kondisi fisik prima.

Kok gue jadi cerita sih???

Pesawat terbang

Begitu baca di www.detik.com kemarin siang berita tentang pesawat Mandala yang jatuh di Medan, saya cukup shock juga.

Pertama, Medan adalah kota tempat saya lama tinggal dan saya tahu persis bahwa sejak kira-kira tahun 1988-an, Bandara Polonia Medan sudah seharusnya direlokasi ke tempat lain yang lebih aman. Bandara Polonia terletak di jantung kota Medan, di mana sekelilingnya adalah pemukiman padat penduduk. Saya ingat sekitar tahun 1987-an, salah satu Plaza 7 tingkat didirikan sekitar 2 km dari Polonia Medan. Akhirnya Plaza tersebut "dipangkas" menjadi 4 tingkat saja, dengan alasan keamanan untuk lalu lintas pesawat yang akan take off maupun landing di Polonia. Artinya apa? Artinya adalah, bahwa sejak sekitar 20 tahun yang lalu, Bandara Polonia sudah diklasifikasikan tidak lagi layak berada di tempatnya karena sangat tidak aman. Cuma rencana relokasi ke luar kota Medan, hanya tinggal rencana. Belasan tahun berlalu, hingga saat ini Polonia tetap saja menjadi Bandara yang tidak layak menjadi Bandara Internasional, karena lokasi dan fasilitasnya yang tidak memadai.

Kedua, dari beberapa kecelakaan pesawat sebelumnya yang terjadi di Medan, hampir semuanya berakhir dengan sangat tragis dan korban jiwa yang cukup banyak. Thn 97 lalu, korban tewas lebih dari 200 orang, ketika pesawat Garuda menabrak gunung di daerah Sibayak, sebelum melakukan landing ke Polonia. Mungkin "feng shui" nya Bandara Polonia Medan saat ini, tidak baik. Perlu dilakukan analisa mendalam untuk itu.

Ketiga, trend Low Cost Carrier di industri penerbangan yang beberapa tahun terakhir ini mengalami booming, cenderung menjadi alasan meningkatnya resiko keselamatan pesawat, di mana sebagian perusahaan penerbangan, memangkas cost untuk tiket dengan , salah satunya, melakukan "kompromi" terhadap maintenance cost pesawat. Tetapi fakta ini belum tentu benar, karena Low Cost Carrier seperti Air Asia, terbukti survice dengan safety record yang excellent. Mereka bahkan bisa melakukan ekpansi bisnis dengan membeli puluhan pesawat baru untuk mengantisipasi kebutuhan bisnis mereka di masa depan. Artinya, belajar dari kesuksesan Air Asia nya Tony Fernandez, biaya bisa ditekan bukan dengan mengorbankan safety, tetapi dengan menerapkan management yang tepat, strategi bisnis yang jelas, kemampuan mengantisipasi pasar, dan visi dari top management mereka untuk melihat berbagai business opportunity di masa depan. Bisnis yang bagus, salah satu indikasi utamanya, adalah bisnis yang mempunyai growth trend. Sementara, di Indonesia, kelihatannya ada kesalahan mendasar dari beberapa perusahaan, khususnya dalam menerjemahkan konsep "low cost carrier". Low cost, diidentikkan dengan pemangkasan biaya dan mengurangi aktivitas, bukannya dengan meng-efisien-kan business process. Padahal, dengan meng-efisien-kan business process, seharusnya pada akhirnya akan didapatkan efisiensi cost, tanpa mengorbankan keselamatan dan perawatan. Hanya Lion Air, yang sejauh ini cukup sukses dari sisi bisnis, meskipun safety record mereka sejauh bisa dikatakan merah karena cukup ada beberapa accident yang melibatkan pesawat-pesawat Lion Air.

Jadi, apapun alasannya, di industri penerbangan, sudah seharusnya filosofi Safety First is our Concern, menjadi dasar untuk menentukan arahan bisnis. karena begitu track record mereka jelek, maka akan sangat sulit untuk kembali menaikkan citra perusahaannya di tengah persaingan bisnis yang sangat ketat.

Pada akhirnya, kita selaku customer, memang harus lebih bijak memilih.
Tapi kalau sudah takdir, memang gak bisa menghindar dari accident apa pun.

Apalagi kalo naik pesawat tua dari Sorowako ini.... bisa jantungan deh!!