Monday, December 03, 2007

Almost all of us hate monday

Sekarang ini, ungkapan yang populer bagi orang bule, juga populer di Indonesia. Yang jelas, karena hari ini hari Senin, maka gue jadi inget kalimat terkenal "I hate Monday". Dan berhubung hari emang workload gue luar biasa gilenya, gue jadi merasakan makna hakiki dari kalimat "gue benci Senin".

Masalahnya, kelihatannya bukan cuma gue yg benci Monday... tapi kayaknya orang di sleuruh kantor ini pada benci Monday dengan segala rutinitasnya. Kenapa nggak Sunday aja terus, kan enak banget.... Kenapa kalender harus ada 7 hari berbeda? Coba kalo kalender insinya cuma hari Sabtu dan Minggu, kan enak banget tuh... hehehe...

So, gue yakin hampir semua orang benci Monday yang menyebalkan ini...
Tapi... apakah semua orang benci Monday?

Dulu, waktu gue masih kerja di Jakarta dan tenggelam dalam lalu lintas kesibukan jutaan manusia yang lalu lalang mengisi belantara Jakarta, gue sering melihat wajah-wajah manusia yang menatap kedatangan Monday dengan penuh semangat dan harapan. Wajah-wajah saudara kita, yang menggantungkan hidupnya dan hidup keluarganya, dari kesibukan kegiatan dari manusia lainnya. Setelah sabtu dan minggu yang sepi, dimana pendapatan mereka melorot - datanglah Monday dan rekan-rekannya sampai Friday - yang membawa harapan akan rejeki dan nafkah kehidupan yang lebih baik.

Wajah-wajah itu gue lihat di supir angkot, di pedagang asongan di perempatan jalan, pedagang kaki lima di trotoar berdebu, anak-anak kecil penyemir sepatu, dan lain-lain. Di wajah mereka, yang ada hanyalah Monday yang membawa peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk dibagikan bagi anak istri di rumah.

Gue jadi ingat tentang teori relativitas umum yang ditemukan oleh Einstein. Walaupun itu merupakan hukum fisika tentang gerak materi pada kecepatan sangat tinggi, teori itu juga sangat tepat dihubungkan dengan cara kita manusia, memandang segala sesuatu secara relatif. Dari kacamata agama, yang absolut hanya Allah Tuhan Semesta Alam. Selebihnya, yang ada hanyalah relativitas yang semu, dimana nilai suatu perbuatan atau suatu benda, berubah-ubah tergantung dari sudut pandang mana yang akan diambil.

Begitu juga saat gue menilai Monday yang membosankan ini...... pada saat gue terpaku dengan nilai absolut dari Monday yang membosankan ini, ada jutaan manusia lain yang sangat mencintai Monday, karena alasannya yang berbeda.

Saturday, December 01, 2007

Brian's Song

Beberapa waktu lalu, gue nonton sebuah film di saluran TV Indovision. Judulnya Brian's Song. Awalnya sih, gue pikir film ini hanya sebuah film tentang atlet football biasa, seperti film-film lain tentang atlit yang sukses dan gagal, atau mungkin seperti film Jerry McGuire yg dibintangi Tom Cruise. Jalan ceritanya, adalah tentang kompetisi antara dua atlit american footbal untuk mendapatkan posisi di tim inti. Keduanya mempunyai sisi kontras, yang satu pemalu yang lainnya sangat percaya diri. Seorang dari mereka adalah kulit putih bernama Brian Piccolo, dan satu lagi kulit hitam bernama Sayers.

Persaingan yang ketat antara kedua, menumbuhkan bibit persaingan yang sehat, dimana pada saat keduanya sehat, si kulit hitam terpilih sebagai anggota tim inti dan si kulit putih sebagai cadangan di posisi yang sama. Brian berlatih ekstra keras untuk mendapatkan posisi inti, tapi Sayers is the better one. Sampai dalam suatu pertandingan, Sayers mendapatkan kecelakaan sangat parah dan menyebabkan dia berpikir karirnya sebagai pemain football sudah tamat. Brian, yang mendapatkan rejeki nomplok karena kecelakaan itu dan langsung terpilih sebagai anggota tim inti menggantikan Sayers, justru berusaha keras membangkitkan kembali semangat Sayers yang saat itu dalam kondisi depresi berat,untuk kembali optimis dengan selalu melontarkan ejekan pembangkit semangat agar Sayers kembali terpacu menjadi yang terbaik. Brian mengatakan, dia ingin mengalahkan Sayers secara adil di lapangan, bukan karena kecelakaan.

Singkat cerita, akhirnya si Sayers kembali sembuh setelah usaha berbulan-bulan dari Brian. Tapi justru kemudian, Sayers adalah orang pertama yang menemukan bahwa Brian menderita kanker ganas. Pendulum berbalik, di mana Brian akhirnya harus terbaring lemah di rumah sakit sementara Sayers makin cemerlang dan terkenal di lapangan.

Gue nonton film ini dengan emosi yang bermacam-macam.Ending yang sangat mengharukan, persahabatan yang luar biasa antara dua ras kulit yang berbeda, sisi humanis yang diangkat dengan sangat brilian, acting para aktornya yang luar biasa, dan moment-moment yang sangat menyentuh di film ini, sangat mengesankan bagi gue. There are a lot of good things can be learned from this movie. This movie offers every touchy things, from friendship until love. What a great movie! This is one film that should be in everyones library
.

Film-film berkualitas, tak jarang menyisipkan pesan-pesan kemanusiaan dan individu yang luar biasa dalam plot ceritanya. Sutradara yang piawai, pemeran yang berkualitas dan menjiwai perannya, alur cerita yang kuat dengan ending yang menawan, membawa kesan mendalam bahkan jauh setelah kita selesai menonton film itu. Brian's Song adalah jenis film seperti ini. Film, yang pada gilirannya, membawa penontonnya untuk mengambil hikmah yang bisa dibawa ke dalam kehidupan personal, pertemanan maupun keluarga. Film yang menonjolkan sisi terbaik manusia sebagai makhluk sosial.

Gue sejak beberapa tahun terakhir ini, menjadi penggemar film-film yang berkualitas. Sayangnya, tidak ada satupun film produksi anak bangsa yang bisa dimasukkan dalam kategori berkualitas. Film-film indonesia yang tak lebih dari industri pengejar duit semata, membawa peran sinema hanya sekedar pengisi waktu selama durasi 90 menit. Selebihnya, tak ada yang bisa dibanggakan sama sekali. Bagi sineas film Indonesia, membuat film berkualitas mungkin sama susahnya seperti terbang ke Pluto. Peran film yang seharusnya juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembawa pesan-pesan berkualitas, tenggelam oleh plot cerita yang sangat lemah, kualitas sutradara yang pas-pasan, akting dari pemerannya yang sangat murahan, plus anggaran yang sangat ditekan oleh produser...

Padahal film seperti Brian's Song, bukanlah film dengan anggaran tinggi. Tetapi, Brian's Song, adalah salah satu film terbaik yang pernah gue tonton.