Tuesday, December 27, 2005

What a mother can't do ?

Dulu banget (kira-kira 18 thn yg lalu), ada salah satu film serial yg sangat gue sukai di TVRI. Judulnya the Friday 13th, film horror yang sangat mencekam. Diantara sekian episode yang gue tonton, ada salah satu epidose dengan judul di atas... what a mother can't do? Dan gue sangat ingat dengan episode tersebut, karena akhirnya cukup tragis. Dimana seorang ibu mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa bayi nya yang akan menjadi korban kutukan benda terkutuk. Dan sang ibu, yang mempunyai cinta tanpa batas dan tanpa pamrih untuk anaknya, tanpa ragu mengorbankan kehidupannya sendiri untuk kehidupan sang anak.

Pesannya sih jelas.... seorang ibu akan mengorbankan apa saja demi anaknya. Itu sudah merupakan naluri dasar makhluk hidup mamalia seperti manusia, singa, harimau, gajah, kuda....

Sengaja gue tulis segala macam hewan menyusui, karena memang gue percaya bahwa hanya mamalia saja yg mempunyai kedekatan khusus dengan anak-anak yang disusuinya.

Bagaimana dengan si anak? Apakah bisa merasakan cinta tanpa batas sang ibu?

Tadi sore gue nonton salah satu acara liputan selebritis di TV. Seorang ibu dari salah satu artis terkenal, menangis histeris karena sang anak yg sudah ngetop, katanya, mengangkat orang lain sebagai orang tuanya dan tidak mengakui sang ibu sebagai ibu kandungnya. Yang buat gue terenyuh, sang ibu dengan histeris mengakui kalau dia dulu menjadi pelacur untuk menafkahi sang anak, sebelum akhirnya ada orang yang mengangkatnya dari lubang hitam pelacuran.

Mungkin sang artis yang sudah top, kaya dan punya segalanya saat ini, merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekas pelacur. Mungkin, sang artis yang sudah nyaman dengan rumah mewahnya di Pondok Indah, merasa tidak sepadan dengan sang ibu yang tidak pernah diakuinya lebih dari 20 tahun... hingga saat ini...

Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang ibu, untuk membesarkan anaknya? Bahkan profesi paling hina seperti pelacur pun, dijalani dengan penuh derita demi sang anak.

Kadang-kadang, dalam situasi tertentu, anak-anak bisa menjadi musuh terbesar orang tuanya. Baik disengaja maupun tidak, anak-anak bisa jadi menyakiti hati orang tua, khususnya ibu, tanpa menyadari derita yang tersimpan dalam hati seorang ibu.

Hari Ibu baru saja berlalu....

Friday, December 23, 2005

Rehat sejenak

Minggu lalu gue ada business trip ke Jakarta. Setelah sekian lama terjebak di hutan belantara ini, rasanya cukup refresh juga kembali ke peradaban kota besar yang sibuk, semrawut, penuh aktivitas, penuh intensitas denyut nadi persaingan bisnis dan manusia, dan lain-lain.

Gue cukup enjoy lah, tinggal satu minggu di sana. Selesai urusan kantor, bisa jalan-jalan cuci mata ke beberapa mall terbesar dan termewah di Jakarta. Sempat juga luntang lantung selama 6 jam di Mangga Dua dan Glodok, melihat surga pembajakan film dan software komputer di sana.

Rasanya gue bisa rehat sejenak dari rutinitas di hutan, yang kadang bisa membuat stress dengan irama kehidupannya yang sangat tenang, ringan, santai, dan membuat gue terlena. Selama di hutan belantara ini, irama hidup sudah jelas. Datang dan pulang kantor selalu on time. Waktu tempuh rumah ke kantor hanya 15 menit, tanpa macet. Pulang ke rumah, masih bisa melakukan banyak hal lain, misalkan berkebun, main ke danau, main golf, main tennis, bulu tangkis, dll. Hidup yang sempurna. Dan terkadang melenakan!

Terlena di hutan? Apa gak salah? Masak refreshing malah ke kota yang amburadul kayak Jakarta? Bukannya malah orang Jakarta kalo mau refreshing, malah pergi ke tempat tenang dan hutan buatan di Lido sono?

Rehat alias refreshing, ternyata tidak identik dengan tempat tenang dan kegiatan santai saja. Buat gue, refreshing alias rehat adalah, melakukan sesuatu di luar rutinitas, atau mengalami suatu kondisi dan situasi di luar rutinitas. Jadi kalo bagi gue yg menghabiskan runitas di hutan yg tenang ini, melewatkan waktu selama satu dua minggu di kesibukan kota Jakarta adalah "penyegaran" yang sangat bermanfaat. Asyik juga melihat jutaan manusia yang terburu-buru ke sana kemari, melakukan aktivitas tanpa henti mulai subuh hingga malam, melihat lampu-lampu berwarna warni gedung-gedung tinggi di sudirman/thamrin dari kamar hotel, langit malam Jakarta yang mendung kelabu....

Monday, December 19, 2005

Mau jadi seperti apa?

Pagi ini, gue masih males-malesan di kamar hotel. Manasin air and then make a cup of tea. Mau mandi, masih males.. soalnya ntar baru meeting sekitar 2 jam lagi. So, gue nonton film di salah satu channel - Star Movies.

Film nya sih tentang drama ABG & keluarga gitu. Tentang seorang wanita single parent yg memiliki anak cewek usia pre college, yg mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah seni musik klasik yang terkenal di Philadelphia karena salah satu professor menemukan bakatnya dalam bernyanyi. Sedangkan tuh cewek and her mom come from Texas, yang di Philly dianggap orang "udik" dan cowboy banget. Sang cewek yg sebetulnya lebih "in" dengan gaya Texas yg ceplas ceplos dan lebih suka musik pop country terpaksa harus mengalami ejekan dari beberapa temannya yang sinis dan mengalami masalah dengan sekolah, dosen musik klasik yang tipenya disiplin dan sinikal, plus harus belajar logat european untuk menjadi penyanyi klasik yang baik.
Walaupun akhirnya sang cewek bisa menunjukkan kapasitas dan bakatnya setelah melalui beberapa konflik, akhirnya sang cewek tetap aja stress.

Alasannya cuma satu, dia lebih enjoy dengan nyanyi gaya pop country yang ekspresif, bebas dan penuh kreativitas. Dia berpikir, dia tidak menjadi dirinya dan dia sangat tidak comfortable dengan situasi itu.

Benang merah yg gue dapatkan, mau jadi apa sebetulnya diri kita dan mungkin orang-orang yang dalam didikan kita? Apakah pendidikan diarahkan untuk menjadikan orang seperti apa, apa ingin menjadikan orang mengerti pilihan-pilihan akan memilih untuk menjadi apa?

Tapi emang susah. Karena kultur timur kita yang cenderung tertutup dan tidak ekspresif, sehingga kita sering kali menggunakan topeng-topeng budaya yang ada di sekitar kita untuk menutupi mau jadi apa kita sebenarnya, menutup potensi dan bakat yang mungkin saja kita punya....

Wednesday, December 07, 2005

Ketiban durian runtuh

Kemarin gue nonton berita di TV, liputan utamanya adalah soal re-shuffle terbatas kabinet yang dibentuk SBY. Salah satu yang menarik perhatian gue adalah kegembiraan keluarga salah seorang menteri yang baru diangkat. Sang istri yang sedang di rumah bersama beberapa keluarganya, berulang kali mengucap alhamdulillah dan senang dengan pengangkatan suaminya menjadi menteri.

Gue tersenyum sendiri. Senyum ironis sebetulnya, jika dipikir-pikir lebih jauh. Dalam beberapa hal, jabatan publik seperti menteri, yang diberikan berbagai fasilitas mewah dengan gaji wah, jelas membuat sebagian besar orang akan berbunga-bunga hatinya dan senang tidak kepalang. Namanya dapat fasilitas enak, masa harus pasang tampang muka sedih? Gue sendiri juga kalo ditawarin jadi menteri, tanpa mikir panjang pasti dengan gembira terima kasih kalo perlu sujud syukur....

Tapi..........

Gue jadi teringat salah satu tokoh paling hebat dalam sejarah manusia, khususnya perdaban Islam. Namanya Umar bin Khattab, salah satu sahabat Rasulullah yang paling terkemuka, paling disukai Allah, dan dijamin masuk surga oleh Allah. Kebetulan waktu SMA dulu, gue pernah dikasih hadiah buku yang menceritakan tentang karakter Umar bin Khattab. Salah satu karakter paling kuat dari Umar adalah, dia lelaki yang tidak kenal takut, lelaki keras luar dalam. Yang dia takuti hanyalah Allah. Selain Allah, Umar akan berdiri tegak menantang siapa pun yang menurutnya salah dan perlu diluruskan. Bahkan Umar adalah salah satu shahabat yg berani beradu argumen dengan rasulullah, dan akhirnya argumen Umar dibenarkan Allah lewat firman di Al Qur'an.

Al kisah, salah satu momen yang membuat Umar bin Khattab menangis dan ketakutan, adalah saat dia diangkat menjadi Khalifah ke dua pengganti Abu Bakar. Umar menangis dan takut, karena memikirkan beratnya beban amanah yang harus dia pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah atas posisinya sebagai Amirul Mu'minin, pemimpin utama umat Islam. Ada jutaan harapan dan amanah yang harus dia pertanggungjawabkan sebagai pemimpin, dan itu membuat Umar menangis karena khawatir. Bukan jabatan itu yang membuatnya gembira, tapi bagaimana bisa mengembankan amanah secara bertanggungjawab lah , yg menjadi pikirannya.

Dalam salah satu kisah, diceritakan kebiasaan Umar yang suka sendiri berjalan di malam hari, untuk melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Di suatu malam, Umar berjalan kaki sendirian dengan perasaan puas melihat kehidupan rakyatnya yang cukup makmur. Ketika sedang berjalan di dekat sebuah rumah, tiba-tiba didengarnya tangisan anak-anak dari dalam rumah. Diam-diam mendekat dan melihat dari jendela apa yg terjadi. Seorang ibu sedang mengaduk panci dengan anaknya yang menangis karena lapar di pangkuannya. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya sambil mengaduk makanan, hingga anaknya tertidur kelelahan.

Umar mengetuk pintu rumah dan menanyakan apa yang terjadi. Sang ibu adalah seorang janda, dimana suaminya mati syahid dalam peperangan dan harus membesarkan anaknya dalam kemiskinan. Dan yang dimasak saat itu ternyata adalah batu, bukan gandum. Si ibu ternyata sedang membohongi anaknya yg kelaparan karena tidak punya gandum untuk dimasak. Si Ibu sendiri tidak mengetahui kalau pria yang bertanya padanya saat ini adalah Umar bin Khattab, sang Amirul Mu'minin yang telah meruntuhkan Kekaisaran Romawi dan Persia.

Umar yang melihat kondisi tersebut sangat shock dan terpukul. Dia kembali pulang sambil menangis sepanjang jalan. Sepanjang jalan menuju istana, Umar berucap terus menerus kepada dirinya sambil menangis :"Wahai Umar, ada berapa banyak anak-anak kelaparan yang menuntut pertanggungjawaban mu kelak di akhirat!"

Umar pergi sendiri ke Baitul Maal, tempat penyimpan harta negara, mengambil sekarung gandum dan memikulnya sendiri untuk dibawa kembali ke rumah janda dgn anaknya yang kelaparan itu. Salah seorang pengawal yang kaget melihat pemimpinnya memikul karung gandum seorang diri, mencoba menawarkan diri membantu. Tapi Umar membentak dengan suara keras :" Apa kau yang akan memikul dosaku kelak karena amanah yang tidak bisa kupenuhi??"



Gue ingat banget dengan kisah itu, karena waktu bacanya, gue ikut menangis karena terharu dengan kebesaran jiwa seorang Umar bin Khattab, tokoh yang paling gue kagumi selama hidup. Bahwa menjadi pemimpin, adalah amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah. bahwa menjadi pemimpin, adalah godaan yang bisa menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan.

Ironis, jika melihat kegembiraan orang-orang saat ini, yang ketika diberi jabatan seperti menteri, malah gembira karena memikirkan fasilitas duniawi yang melimpah. Padahal, kalo yang dipikirkan adalah bagaimana mempertanggungjawabkan amanah kelak di hadapan Allah, seharusnya mereka bisa bercermin dari seorang manusia bernama Umar bin Khattab....

Tuesday, December 06, 2005

Mimpi dengan mata terbuka

Gak tau kenapa, hari ini gue bangun agak dini...... jam 3.25 pagi. Gulang guling di tempat tidur, mau tidur lagi kagak bisa-bisa. Akhirnya gue bangun dari ranjang, nyalain laptop, login ke jaringan dan kemudia meluncur ke jagat maya yang - katanya sih - tanpa batas. Jagat maya di mana Anda bisa menuntaskan semua impian terliar yang bisa anda pikirkan (mulai pornografi hingga tutorial menjadi teroris yang "baik").

Pagi subuh yang dingin ini, gue sedang tidak tenggelam di alam mimpi. Ketika orang-orang pada terlelap di fase paling dingin menjelang subuh, ketika mimpi-mimpi sedang menguasai singgasana sel-sel kelabu otak manusia, gue juga sedang bermimpi dengan mata terbuka menatap layar laptop.

Mimpi ketika kesepian dan keheningan khas menjelang subuh ini, bisa digunakan menjadi ajang kontemplasi manusia-manusia yang menghabiskan sebagian besar waktunya dengan kehidupan tanpa makna buat jiwa. Mimpi ketika keheningan malam menjelang subuh ini bisa menjadi cermin buat mengoreksi tindakan-tindakan keliru dalam bicara maupun bertindak.

Ahh... pasti Surya sedang ngelindur yaa... Wong biasanya bangun jam 7 gitu, mau kasih komentar bangun subuh. Apa gak malu ama cicak di dinding yang rajin bangun pagi itu :D

Tapi bukan kah realitas saat ini memang seperti mimpi dengan mata terbuka bagi kebanyakan kaum marjinal? Ketika himpitan ekonomi makin menekan hidup kebanyakan orang susah, ketika pemerintah dan orang pintar mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang ternyata sangat tidak bijak buat rakyat jelata dan kaum duafa, ketika kemiskinan yang luar biasa bersanding dengan kekayaan dan kehidupan glamour yang luar biasa (sama-sama luar biasa dari spektrum yang berbeda), maka mimpi dengan mata terbuka adalah fenomena sosial yang sangat lazim di masa sulit seperti sekarang. Rakyat miskin, terus terjaga dengan mata terbuka - menunggu mimpi-mimpi yang ditaburkan pemerintah menjadi kenyataan di depan hidung mereka.

Indonesia, memang negeri 1001 mimpi tanpa realisasi....

Ahhh... pasti gue sedang mimpi yaaa.... -:)

Monday, December 05, 2005

Anjlok..

Jalan Tol Cipularang yang selama beberapa waktu terakhir mendapat sorotan karena berita positifnya ( mempersingkat waktu tempuh Jakarta-Bandung dan dirancang oleh putra putri Indonesia ), ternyata menyimpan bom waktu. Dan ternyata, bom waktu meledak terlalu cepat, dimulai dengan adanya badan jalan yang ambrol sedalam 4 meter lebih sepanjang 25 meter, ditambah lagi tanah yang longsor sehingga badan jalan terancam anjlok juga.

Padahal baru beberapa bulan dioperasikan, udah anjlok.

Dampaknya bisa macem-macem dan kemana-mana. Tapi satu hal, ini merupakan cermin bahwa ternyata bangsa kita masih tidak mampu membuat prasarana infrastruktur jalan tol yang baik sesuai dengan standard keselematan yang diperlukan. Pekerjaan konstruksi yang seharusnya melibatkan penelitian mendalam terhadap struktur tanah dan geologi di sepanjang jalan, analisa terhadap curah hujan dan aliran air yang mepunyai penyaruh langsung terhadap keselamatan jalan, tidak dilakukan secara benar karena tuntutan agar jalan tol harus selesai sebelum konfrensi Asia-Afrika di Bandung dilaksanakan. Akibatnya, ya itu. Pada anjlok dan ambrol.

Bisa jadi itu merupakan refleksi sebagian rakyat yg udah anjlok kepercayaannya terhadap pemerintah dan kemampuan bangsa sendiri.