Sunday, October 30, 2005

PUISI - PUCUK HATI


Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang menantikan sentuhan lembut sang gerimis,
sebagaimana sentuhan lembut sang kekasih,
dingin menyegarkan jiwa kehausan.

Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang menyimpan seribu duka nestapa,
bagaikan gemulung awan gelap menjelang badai,
adakah tempias hati menjadi tempat mengadu?
ataukah harus kau berjalan lagi menembus lorong waktu,
dan terseok-seok di semak-semak jaman,
demi jiwa yang telah kau pilih,
untuk menduduki singgasana hatimu sepanjang musim?

Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang bunganya mekar di segala musim,
dan harumnya semerbak di sepanjang hari,
kaupun terdiam dan menangis,
tak hendakku terdiam menatap matamu yang resah tak berdaya,
dan getar lentik bulu matamu,
bukankah telah menggetarkan seluruh relung hatiku?

Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang masih terus menatap langit biru,
menunggu detak-detak jaman berlalu...

17/01/01

PUISI - PERJALANAN ABADI

Aku sedang dalam perjalanan,
menuju kehidupan yang abadi,
Setiap kali jantungku berdetak,
yang kudengar hanyalah panggilan kematian,
dan ketika kuberpaling ke belakang,
kulihat jejak langkahku di trotoar jaman.

Tarian siang dan malam,
dan senandung resah musim yang bergulir,
bukankah akan menyeretku
ke satu tujuan yang sama denganmu?
Dan ketika kuterjaga di sini,
kulihat episode hidup terus berganti wajah,
seiring dengan pergantian peranku.

Dan kau tanyakan padaku,
akan kemanakah kita berlabuh?
Kukatakan padamu,
Aku sama bingungnya denganmu....

18/01/01

Saturday, October 29, 2005

Mudik Spiritual

Berhubung sekarang lagi musimnya Mudik Lebaran, gue pengen "mengomentari" ritual massa yang sudah berlaku turun temurun.
Melihat berita di TV tentang kesibukan dan segala aktivitas orang-orang yang pada mudik, ternyata mengasyik juga. Wajah-wajah lelah namun ceria dan bahagia, ada di mana-mana. Melihat sekian banyak manusia berdesak-desakan dan rebutan masuk angkutan umum seperti bis dan kapal laut, ternyata mengasyikkan juga. Melihat mobil-mobil pribadi yang dipenuhi ayah, ibu, dan anak-anak yang bersemangat meskipun menempuh perjalanan jauh. Melihat gerombolan sepeda motor yang dipenuhi muatan melaju menembus jalur Pantura.

Ada jutaan orang yang mudik dalam beberapa hari ke depan. Mudik secara fisik. Bertemu dengan handai tolan di kampung halaman, orang tua, tetangga, mantan pacar, dll. Ada banyak kenangan manis yang di-refresh dengan mudik. Ada banyak tali silaturahmi yang tersambung kembali dengan mudik. Ada banyak kebaikan dan hikmah yang tersimpan dalam ritual bernama Mudik.

Tapi mudik dalam kaitannya dengan Iedul Fitri, pastilah mempunyai makna yang jauh lebih luas - bukan sekedar berpeluh ria saat menmbawa badan dan oleh-oleh ke kampung halaman. Iedul Fitri sendiri adalah proses "Mudik kembali ke Fitrah". Puasa dan Iedul Fitri, membawa kita kembali ke titik nol di mana kita dilahirkan, ke titik di mana pahala dan dosa tidak mendapat tempat dalam koridor perilaku dan ucapan. Dimana segala budaya artifisial dan superfisial buatan manusia tidak mempunyai pengaruh apa pun terhadap pola pikir manusia dengan fitrah. Kita kembali suci, Mudik menjadi bayi yang baru dilahirkan.

Mudik secara spiritual - adalah salah satu pesan yang dibawa oleh proses puasa dan Iedul Fitri. Sejak hari pertama puasa, kita berjuang merintis langkah Mudik, untuk kembali ke Fitrah sebulan kemudian. Segala macam bekal kita siapkan, mulai dari taraweh, qiraat al Qur'an, dzikir dan sholat ditingkat, sedekah dilipatgandakan, dan seterusnya. Bekal-bekal mudik dalam rangka kembali ke fitrah itu, tidak disimpan dalam koper-koper besar dan kardus-kardus banyak seperti mudik fisik ke kamping halaman. Bekal mudik spiritual itu, lebih terlihat dari perubahan pola pikir dan perilaku yang lebih baik, lebih santun, lebih bertaqwa, lebih bisa mengendalikan diri. Mudik secara spiritual memerlukan proses perbaikan terus menerus, supaya setiap tahun bisa semakin bermutu mudiknya sehingga mencapai tujuan akhir : Mudik ke Fitrah yang tanpa dosa.

Selamat mudik deh.....

Tuesday, October 25, 2005

CERPEN - WANITA TERBAIK

Matanya masih menatapku.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.

Biji matanya masih tetap sehitam seperti yang terakhir kuingat. Tapi dulu dia suka memainkan biji matanya yang hitam itu ke arahku. Sambil tersenyum manis dan terkadang tertawa terkikik-kikik. Sekarang, jangan kan tertawa, berkedip untuk ku pun, dia tak mau.

“Apakah kau marah padaku?” Aku bertanya-tanya dalam hati. Kepala ku kosong, seakan menyimpan segumpal besar busa tanpa isi. Rasanya, bukan cuma kepala ku saja yang kosong, hatiku sepertinya sudah tak berada lagi di tempatnya.

Kau tak menjawab. Masih menatap ke arahku dengan pandangan yang aku tak pernah tahu apa artinya.

“Ahh…. Mungkin kau tidak marah. Kau hanya kesal saja padaku.”Aku berusaha menghibur hatiku yang gundah gulana. Tak biasanya dia seperti ini. Semarah apa pun dia padaku, biasanya dengan cepat akan cair. Dia tak biasa marah terlalu lama.

Aku sudah berusaha membujuknya dari tadi. Tapi tak mempan. Mungkin dia sudah bosan dengan bujukanku, yang biasanya sulit kutepati. Mungkin dia takut kubohongi lagi.

“Aku tak akan membohongi engkau lagi. Aku akan penuhi apapun yang kau minta,” Aku menggumam sendiri.

Hanya dengung dari segerombolan lalat hijau saja di dekat tempat sampah itu, yang menjawab gumam ku.

Bahkan, aku sendiri pun tak yakin apakah bisa memenuhi janji dari ucapanku barusan. Rasanya aku sudah terlalu sering berjanji padamu. Dan aku yakin, kau bahkan lebih capek lagi mendengarkan janji-janji kosongku.

Kau masih menatapku.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.


“Kau masih tak percaya padaku ya?” Aku tersenyum getir. Rasanya matamu yang hitam itu seperti menghakimiku. “Aku hanya bisa memberikan kamu awal kehidupan.”

Air mataku mengalir perlahan. Terisak sedikit, tapi aku berusaha bertahan.
Aku tak mempunyai apa-apa lagi yang bisa kuberikan padamu.

“Aku tahu, kau wanita terbaik yang pernah aku punya. Tak akan ada yang bisa menggantikanmu.” Aku tak berani lagi menatap matanya. Tapi aku yakin, kau percaya dengan ucapanku itu.

Perlahan, aku rapikan lipatan selendang yang menutupi rambut halusmu. Kupikir, aku bisa menunjukkan kasih sayangku padamu. Dan akan membuat kau mau memberikan satu kedipan saja kepadaku.

Tapi mungkin aku sedang bermimpi. Tak mungkin rasanya kau mau menerimaku hanya karena satu gerakan itu. Kau mungkin sangat marah padaku. Sangat kecewa. Aku tak bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak mu sejak dulu.

Tapi kau terlalu baik. Kau bahkan wanita terbaik dalam hidupku.
Kau tak marah. Kau hanya kecewa. Mungkin begitu, aku tak tahu.

Aku menghibur hatiku sendiri. Menatap lagi matamu, berusaha mencari-cari sekilas rasa maaf di dalam mata hitammu. Tapi kau tetap menatapku tak berkedip. Menatapku dengan pandangan yang aku tak mengerti artinya.

Malam sudah menjelang akhir. Tapi justru saat ini adalah saat paling lelap dari tidur manusia. Saat paling dingin.

Tapi dinginnya malam ini, jelas tak sedingin tatapanmu padaku. Apakah kau tidak berperasaan lagi?

Aku merasakan sakit yang tak biasanya di ulu hati. Air mataku mengalir lagi. Tatapanmu lebih menyakitkan dari segalanya.


Tapi aku masih bisa merasakan cinta yang pernah kau berikan padaku. Cinta yang begitu tulus dan murni. Aku berharap pagi ini, ketika matahari akan bersinar lagi setelah kegelapan yang mencekam ini, kau bisa memberikan cinta yang sama padaku.

Tapi aku tidak yakin.
Aku tak punya keyakinan lagi dalam hidupku.
Akan kemana kau kubawa?
Apakah kau akan mau ikut bersamaku?
Apakah kau masih mau memaafkanku?
Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertemu lagi denganmu?

Kau wanita terbaik.
Tapi aku jelas bukan lelaki terbaik.

Aku telah kalah menantang kehidupan ini. Yang aku sesali, kenapa aku harus menyeretmu ikut menemaniku dalam kekalahan itu. Kau berhak memenangkan segalanya dalam hidupmu, karena memang itulah hak mu.

“Tapi aku memang terlalu egois….”
“Lelaki memang egois….”
“Bahkan lelaki terbaik pun pasti egois, apalagi aku, lelaki yang kalah ini…”

Aku merasa suaramu terngiang-ngiang menghantam gendang telingaku.
Padahal kau masih di situ, berbaring menatap bintang. Berbaring menatap mataku dengan bola mata hitammu yang polos itu.

Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.


Angin dingin mengalir dari lorong.
Aku menggigil ketika aliran udara itu menghantam tulang igaku yang kurus menonjol. Kututupi tubuhmu dengan kain lusuh yang masih aku punya.

Aku berharap bisa mendapatkan sedikit simpati darimu.
Air matamu sudah kering dari tadi. Mungkin karena tersapu angina malam di dingin yang subuh ini. Hanya alur air matamu saja yang berbekas di pipi mungilmu.

Dengan lembut aku membelai rambutmu. Merapikannya dengan segenap cinta yang aku punya.

Rasanya monolog seperti ini tak akan pernah berakhir. Bahkan hingga napas terakhirku.

Aku terduduk tak berdaya. Menatap tepian trotoar yang kotor berdebu. Dinding kusam yang ditumbuhi lumut berdiri tegak di depan. Di samping wanita terbaikku. Aku ingin menangis sepuasnya dengan kekalahan ini. Rasanya hidup ini sudah sangat kejam untukku.

Mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu, karena Dia tahu, wanita terbaik ku haruslah mendapatkan tempat layak ketimbang terus menikmati kekalahan demi kekalahan dalam hidup ini.

“Baiklah sayang… ,” aku bergumam lirih menahan tangis. “Aku akan memberikan yang terbaik besok pagi untuk mu.”


Kau masih menatapku.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.
Menatap bintang-bintang di langit kelam.

Kerlip bintang-bintang cemerlang di langit malam seperti bermain mata denganmu.

Aku menengadah ke langit kelam. Ikut menatap kerlip bintang nun jauh di atas sana. Rasanya tempat terbaik bagi wanita terbaikku, memang hanya pantas berada di antara kerlip bintang-bintang di angkasa sana.

Air mata kembali menggenangi sudut-sudut mataku.
Rasanya, kali ini sudah bisa kutemukan kedipan mata hitammu untukku.
Di antara kerlip bintang itu, akan selalu kutemukan senyum, tawa, tangis, canda, dan semua yang pernah kau berikan padaku.

Terima kasih, Nisa….
Untuk cinta mu padaku dalam usia mudamu.
Besok, kita akan memulai perjalanan panjang kehidupanmu selanjutnya…

13 Juni 2005
Note : Khairunnisa artinya Wanita Terbaik


EPILOG
Salah satu berita di pojok halaman tengah sebuah Koran pagi….


Pemulung Yang Membawa Jenazah Anaknya dgn KRL

Salemba, Warta KotaPEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi,Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari".Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski.Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia", ujarnya. Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu.Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.

Thursday, October 13, 2005

Makan dua hari sekali...

Gue baca hari ini di Kompas Online. Gue membacanya sambil menangis....
Sangat menyentuh hati dan memilukan, terutama bila teringat anak-anak usia Balita yang harus menderita luar biasa karena ketidakmampuan orang tuanya memberikan nafkah yang layak..

Tangerang, Warta Kota



Keluarga Idup (44), warga Kampung Sewan Bedeng RT 01/02, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, terpaksa harus makan dua hari sekali. Untuk mengirit minyak tanah, keluarga itu minum air mentah.
Kesengsaraan keluarga dengan empat anak itu semakin terasa setelah harga BBM naik. Penghasilan Idup sebagai kuli angkut pasir kian terpuruk, begitu pula istrinya Selih (32) yang bekerja sebagai buruh cuci.Sebelum harga BBM naik, keluarga itu masih bisa makan sehari sekali dan Idup masih bisa ngopi dua kali. "Sekarang sudah tak bisa lagi. Dengan uang Rp 3.000 sudah tidak bisa membeli apa-apa lagi," ujar Idup meratapi nasibnya. Ia pun menuding pemerintah buta dan tuli. Menurutnya, para penggede tak peduli terhadap kehidupan orang-orang seperti dirinya yang jumlahnya jutaan.
Idup dan keluarganya tinggal di Kampung Sewan Bedeng RT 01/02, kampung kumuh di bantaran Kali Cisadane, tak jauh dari pintu irigasi Pintu Air X. Kampung itu dipadati rumah gubuk yang ditempati para kuli angkut pasir dan buruh cuci. Seperti kebanyakan rumah gubuk di kampung itu, rumah Idup juga tak berjendela. Udara segar hanya bisa masuk dari sela-sela anyaman dinding gedek. Gubuk berukuran 3 m x 3 m yang disewa Rp 50.000 per bulan itu pun hanya punya satu ruangan yang difungsikan sebagai ruang tamu, kamar tidur, dan dapur sekaligus.
Pasangan Idup dan Selih memiliki empat orang anak. Anak pertama dan kedua, Gustiawan (15) dan Yuliana (13), terpaksa berhenti sekolah di kelas IV SD. Keduanya kini dititipkan kepada neneknya, lantaran Idup dan Selih tak sanggup memberi makan. Hanya dua anak yang tinggal bersama mereka, yakni anak ketiga Julendra (11) yang duduk di kelas V SD dan anak keempat Faisal (3).
"Julendra juga terancam berhenti sekolah, karena sejak bulan Juni sampai Oktober dia belum bayar SPP. Bagaimana kami bisa bayar uang sekolah yang sebulan Rp 5.000, kalau makan aja susahnya bukan main," kata Selih.
Ketika Warta Kota menyambangi rumah kecil berdinding gedek dan beratap anyaman daun kelapa itu, kemarin, Idup bertelanjang dada duduk murung menatap anak laki-lakinya Faisal asyik melahap nasi putih tanpa lauk. Sesekali tangan Idup menuangkan air putih ke piring plastik bocah itu agar nasinya tidak menggumpal.
Di belakang kedua orang itu, Selih duduk bersandar lemari kayu usang sambil mengurut kedua kakinya. Mata perempuan itu terus menatap ayunan tangan si bocah menyuapkan nasi ke mulutnya.
Belum habis nasi di piring Faisal, tiba-tiba kakaknya Julendra menyeruak masuk. Tanpa bicara apa-apa, si kakak merebut piring plastik di depan adiknya. Piring itu dibawanya menjauh ke sudut ruangan. Setelah sejenak melirik ke kanan dan ke kiri, tanpa ragu Julendra menyuap nasi yang tinggal setengah itu ke mulutnya.
Melihat piringnya direbut, Faisal tak bereaksi apa-apa. Dia bangkit dan menjangkau gelas di belakangnya. Ia lalu mengisi gelas dengan air yang diambil dari dalam ember plastik warna hitam. Usai menenggak habis isi gelas, bocah itu berbaring di atas kasur tipis yang dibentangkan di lantai semen. Bau tak sedap merebak dari setumpuk kain gombal yang dijadikan alas kepala si bocah.
"Iya begini deh. Saya dan bapaknya anak-anak mengalah nggak makan hari ini. Habis nasinya nggak cukup buat berempat. Biar aja anak-anak duluan yang makan. Kalau saya dan bapaknya masih kuat nggak makan sampai besok," ujar Selih disusul anggukan lemas suaminya Idup.
Kompor nganggur
Sebagai buruh cuci, Selih mengaku tak bisa berbuat banyak. Penghasilannya yang cuma Rp 30.000 setiap bulan, tak pernah cukup untuk sekadar hidup layak. Sementara penghasilan Idup yang jadi kuli angkut pasir pun tak jelas. Sekali menurunkan pasir, ia dibayar Rp 3.000. Jika banyak orderan, Idup paling banter bawa pulang uang Rp 9.000. Tapi Idup lebih banyak menganggur.
"Sebelum BBM naik, kami sekeluarga hanya makan sehari sekali dengan nasi putih dan kerupuk. Sesekali pakai tempe juga. Bapaknya anak-anak juga masih bisa ngopi paling nggak dua kali sehari. Tapi sekarang, saya dan bapaknya anak- anak kadang baru makan dua hari sekali. Ngopi juga kalau ada orang yang ngasih. Kalau anak-anak sih kami belain makan sekali sehari. Nasi putih aja. Lauknya seketemunya. Biar nggak kering, nasinya dicampur air," ujar Selih.
Idup lalu meneruskan cerita kelam hidup keluarganya. Sambil menunjuk kompor minyak tanah usang yang tergolek di sudut ruangan, ia berkata, "Kompor itu udah lama nggak nyala. Saya nggak kuat beli minyak tanah karena harganya naik terus. Sekarang aja satu liter Rp 2. 900. Sama harganya dengan upah saya sekali nurunin pasir."
Kalau pun ada uang, lanjut Selih, ia dan suaminya hanya mampu membeli setengah liter minyak tanah yang digunakan untuk menanak nasi. "Saya cuma berani menggunakan minyak tanah untuk masak nasi. Agar mengirit minyak tanah, kami nggak pernah masak air minum. Kalau mau minum, ambil saja air di sumur pakai ember. Anak-anak saya juga biasa minum air mentah. Kata mereka lebih enak, rasanya adem. Syukurnya sih mereka nggak pernah sakit," kata Selih.
Selih dan Idup kemudian terdiam. Mata mereka menerawang ke langit-langit rumbia yang jika hujan pasti bocor di sana-sini. "Saya dari dulu mau pindah kontrakan. Tapi uangnya nggak ada. Tinggal di sini susah banget. Kami tidur berempat berdesak-desakan di atas satu kasur. Kadang kepala saya mentok ke kompor. Kalau nggak kaki saya harus dilipat semalaman. Belum lagi kalau hujan, atap pasti bocor. Tidur terpaksa harus gantian, karena kasurnya kebasahan," kata Idup.
Pasangan suami istri itu lalu menanyakan dana kompensasi BBM. "Katanya ada bantuan dari pemerintah buat orang miskin. Kok sampai sekarang kami nggak kebagian. Boro-boro dapat duit, didata saja nggak. Bagaimana nih Pak Walikota, kok yang miskin makin tambah miskin aja," kata Selih lirih. (Has)

Monday, October 03, 2005

Perempuan

Kalo gue bicara tentang perempuan, yang gue bayangkan adalah keindahan dan kelembutan. Perempuan, identik dengan dua sifat ini. Tapi yang pasti, semua perempuan pasti senang jika dikatakan indah dan lembut, walaupun mungkin sifat nya sendiri keras dan jauh dari kelembutan.

Kenapa gue inget ama apa yg namanya perempuan? Salah satu penyebabnya adalah, tayangan-tayangan kriminal di TV yang saat ini menjamur dan sedang trend. Gue kadang-kadang nonton acara TV seperti Buser, Patroli, Sergap, TKP, dll. Dan hampir selalu ada berita penangkapan para PSK oleh aparat tramtib. Yang buat gue nyesek banget adalah, perlakuan dari reporter/kameraman TV dan oknum aparat ketertiban yang sangat tidak manusiawi dan cenderung amoral dalam menangani para PSK tersebut. Ada tayangan di mana wanitanya tidak sempat berpakaian sudah di-shoot. Atau saat menutup-nutupi tubuh mereka, malah kainnya ditarik-tarik oleh oknum aparat. Atau saat diseret dan digelandang ke mobil, rabaan dan colekan tak senonoh kerap mampir ke mereka dari tangan-tangan kotor aparat tramtib. Sementara para pria hidung belang yang menjadi konsumen mereka, aman-aman saja dari cokokan petugas atau liputan pers.

Saya tidak tahu, kenapa tidak ada LSM-LSM pembela hak-hak para perempuan - yang memprotes perlakuan dan liputan seperti itu. Bagi gue, itu adalah pelecehan yang sangat jelas terhadap harkat dan martabat perempuan. Padahal sesuai hukum dasar ekonomi, tidak mungkin ada supply tanpa ada demand. Untuk menghilangkan supply, demand nya bisa dikontrol atau dihilangkan. Jadi untuk memberantas penyakit sosial seperti PSK atau hotel-hotel mesum, tidak cukup dengan mengejar-ngejar para PSK tersebut dengan liputan pers yang "real-time". Yang juga harus diberantas adalah para lelaki hidung belang yang selama ini menikmati pelayanan seks pasca bayar seperti itu. Selama itu tidak dilakukan, upaya sporadis seperti penggrebekan tempat mangkal PSK ataupun hotel-hotel, tidak akan memberikan hasil yang optimal.

Dan para perempuan yang indah dan lembut, engkau akan tetap selalu indah.....