Matanya masih menatapku.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.
Biji matanya masih tetap sehitam seperti yang terakhir kuingat. Tapi dulu dia suka memainkan biji matanya yang hitam itu ke arahku. Sambil tersenyum manis dan terkadang tertawa terkikik-kikik. Sekarang, jangan kan tertawa, berkedip untuk ku pun, dia tak mau.
“Apakah kau marah padaku?” Aku bertanya-tanya dalam hati. Kepala ku kosong, seakan menyimpan segumpal besar busa tanpa isi. Rasanya, bukan cuma kepala ku saja yang kosong, hatiku sepertinya sudah tak berada lagi di tempatnya.
Kau tak menjawab. Masih menatap ke arahku dengan pandangan yang aku tak pernah tahu apa artinya.
“Ahh…. Mungkin kau tidak marah. Kau hanya kesal saja padaku.”Aku berusaha menghibur hatiku yang gundah gulana. Tak biasanya dia seperti ini. Semarah apa pun dia padaku, biasanya dengan cepat akan cair. Dia tak biasa marah terlalu lama.
Aku sudah berusaha membujuknya dari tadi. Tapi tak mempan. Mungkin dia sudah bosan dengan bujukanku, yang biasanya sulit kutepati. Mungkin dia takut kubohongi lagi.
“Aku tak akan membohongi engkau lagi. Aku akan penuhi apapun yang kau minta,” Aku menggumam sendiri.
Hanya dengung dari segerombolan lalat hijau saja di dekat tempat sampah itu, yang menjawab gumam ku.
Bahkan, aku sendiri pun tak yakin apakah bisa memenuhi janji dari ucapanku barusan. Rasanya aku sudah terlalu sering berjanji padamu. Dan aku yakin, kau bahkan lebih capek lagi mendengarkan janji-janji kosongku.
Kau masih menatapku.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.
“Kau masih tak percaya padaku ya?” Aku tersenyum getir. Rasanya matamu yang hitam itu seperti menghakimiku. “Aku hanya bisa memberikan kamu awal kehidupan.”
Air mataku mengalir perlahan. Terisak sedikit, tapi aku berusaha bertahan.
Aku tak mempunyai apa-apa lagi yang bisa kuberikan padamu.
“Aku tahu, kau wanita terbaik yang pernah aku punya. Tak akan ada yang bisa menggantikanmu.” Aku tak berani lagi menatap matanya. Tapi aku yakin, kau percaya dengan ucapanku itu.
Perlahan, aku rapikan lipatan selendang yang menutupi rambut halusmu. Kupikir, aku bisa menunjukkan kasih sayangku padamu. Dan akan membuat kau mau memberikan satu kedipan saja kepadaku.
Tapi mungkin aku sedang bermimpi. Tak mungkin rasanya kau mau menerimaku hanya karena satu gerakan itu. Kau mungkin sangat marah padaku. Sangat kecewa. Aku tak bisa memberikan apa yang seharusnya menjadi hak mu sejak dulu.
Tapi kau terlalu baik. Kau bahkan wanita terbaik dalam hidupku.
Kau tak marah. Kau hanya kecewa. Mungkin begitu, aku tak tahu.
Aku menghibur hatiku sendiri. Menatap lagi matamu, berusaha mencari-cari sekilas rasa maaf di dalam mata hitammu. Tapi kau tetap menatapku tak berkedip. Menatapku dengan pandangan yang aku tak mengerti artinya.
Malam sudah menjelang akhir. Tapi justru saat ini adalah saat paling lelap dari tidur manusia. Saat paling dingin.
Tapi dinginnya malam ini, jelas tak sedingin tatapanmu padaku. Apakah kau tidak berperasaan lagi?
Aku merasakan sakit yang tak biasanya di ulu hati. Air mataku mengalir lagi. Tatapanmu lebih menyakitkan dari segalanya.
Tapi aku masih bisa merasakan cinta yang pernah kau berikan padaku. Cinta yang begitu tulus dan murni. Aku berharap pagi ini, ketika matahari akan bersinar lagi setelah kegelapan yang mencekam ini, kau bisa memberikan cinta yang sama padaku.
Tapi aku tidak yakin.
Aku tak punya keyakinan lagi dalam hidupku.
Akan kemana kau kubawa?
Apakah kau akan mau ikut bersamaku?
Apakah kau masih mau memaafkanku?
Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertemu lagi denganmu?
Kau wanita terbaik.
Tapi aku jelas bukan lelaki terbaik.
Aku telah kalah menantang kehidupan ini. Yang aku sesali, kenapa aku harus menyeretmu ikut menemaniku dalam kekalahan itu. Kau berhak memenangkan segalanya dalam hidupmu, karena memang itulah hak mu.
“Tapi aku memang terlalu egois….”
“Lelaki memang egois….”
“Bahkan lelaki terbaik pun pasti egois, apalagi aku, lelaki yang kalah ini…”
Aku merasa suaramu terngiang-ngiang menghantam gendang telingaku.
Padahal kau masih di situ, berbaring menatap bintang. Berbaring menatap mataku dengan bola mata hitammu yang polos itu.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.
Angin dingin mengalir dari lorong.
Aku menggigil ketika aliran udara itu menghantam tulang igaku yang kurus menonjol. Kututupi tubuhmu dengan kain lusuh yang masih aku punya.
Aku berharap bisa mendapatkan sedikit simpati darimu.
Air matamu sudah kering dari tadi. Mungkin karena tersapu angina malam di dingin yang subuh ini. Hanya alur air matamu saja yang berbekas di pipi mungilmu.
Dengan lembut aku membelai rambutmu. Merapikannya dengan segenap cinta yang aku punya.
Rasanya monolog seperti ini tak akan pernah berakhir. Bahkan hingga napas terakhirku.
Aku terduduk tak berdaya. Menatap tepian trotoar yang kotor berdebu. Dinding kusam yang ditumbuhi lumut berdiri tegak di depan. Di samping wanita terbaikku. Aku ingin menangis sepuasnya dengan kekalahan ini. Rasanya hidup ini sudah sangat kejam untukku.
Mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu, karena Dia tahu, wanita terbaik ku haruslah mendapatkan tempat layak ketimbang terus menikmati kekalahan demi kekalahan dalam hidup ini.
“Baiklah sayang… ,” aku bergumam lirih menahan tangis. “Aku akan memberikan yang terbaik besok pagi untuk mu.”
Kau masih menatapku.
Tak berkedip. Sudah sekitar 5 menit yang lalu.
Tak berkedip.
Menatap bintang-bintang di langit kelam.
Kerlip bintang-bintang cemerlang di langit malam seperti bermain mata denganmu.
Aku menengadah ke langit kelam. Ikut menatap kerlip bintang nun jauh di atas sana. Rasanya tempat terbaik bagi wanita terbaikku, memang hanya pantas berada di antara kerlip bintang-bintang di angkasa sana.
Air mata kembali menggenangi sudut-sudut mataku.
Rasanya, kali ini sudah bisa kutemukan kedipan mata hitammu untukku.
Di antara kerlip bintang itu, akan selalu kutemukan senyum, tawa, tangis, canda, dan semua yang pernah kau berikan padaku.
Terima kasih, Nisa….
Untuk cinta mu padaku dalam usia mudamu.
Besok, kita akan memulai perjalanan panjang kehidupanmu selanjutnya…
13 Juni 2005Note : Khairunnisa artinya Wanita TerbaikEPILOGSalah satu berita di pojok halaman tengah sebuah Koran pagi….
Pemulung Yang Membawa Jenazah Anaknya dgn KRL
Salemba, Warta KotaPEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah.Penumpang kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta - Bogor pun geger Minggu (5/6). Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn) tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3thn). Supriono akan memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL. Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban kejahatan. Tapi di kantor polisi,Supriono mengatakan si anak tewas karena penyakit muntaber. Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah itu ke RSCM untuk diautopsi.Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke Puskesmas Kecamatan Setiabudi. "Saya hanya sekali bawa Khaerunisa ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke puskesmas, meski biaya hanya Rp4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari".Ujar bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya. Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6) pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya.Supriono dan Muriski termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak. Supriono mengajak Muriski berjalan menyorong gerobak berisikan mayat itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet. Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn, Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun. Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet.Polisi menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke RSCM dengan menumpang ambulans hitam. Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan. Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang terbujur kaku. Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh adiknya.Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut, lagi-lagi Karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung sambil menggandeng tangan Muriski.Beberapa warga yang iba memberikan uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan Muriski di perjalanan.Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi perduli terhadap sesama. "Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa. Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa Indonesia", ujarnya. Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu.Yang terjadi selama ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang miskin kata Wardah.