Mudik Spiritual
Berhubung sekarang lagi musimnya Mudik Lebaran, gue pengen "mengomentari" ritual massa yang sudah berlaku turun temurun.
Melihat berita di TV tentang kesibukan dan segala aktivitas orang-orang yang pada mudik, ternyata mengasyik juga. Wajah-wajah lelah namun ceria dan bahagia, ada di mana-mana. Melihat sekian banyak manusia berdesak-desakan dan rebutan masuk angkutan umum seperti bis dan kapal laut, ternyata mengasyikkan juga. Melihat mobil-mobil pribadi yang dipenuhi ayah, ibu, dan anak-anak yang bersemangat meskipun menempuh perjalanan jauh. Melihat gerombolan sepeda motor yang dipenuhi muatan melaju menembus jalur Pantura.
Ada jutaan orang yang mudik dalam beberapa hari ke depan. Mudik secara fisik. Bertemu dengan handai tolan di kampung halaman, orang tua, tetangga, mantan pacar, dll. Ada banyak kenangan manis yang di-refresh dengan mudik. Ada banyak tali silaturahmi yang tersambung kembali dengan mudik. Ada banyak kebaikan dan hikmah yang tersimpan dalam ritual bernama Mudik.
Tapi mudik dalam kaitannya dengan Iedul Fitri, pastilah mempunyai makna yang jauh lebih luas - bukan sekedar berpeluh ria saat menmbawa badan dan oleh-oleh ke kampung halaman. Iedul Fitri sendiri adalah proses "Mudik kembali ke Fitrah". Puasa dan Iedul Fitri, membawa kita kembali ke titik nol di mana kita dilahirkan, ke titik di mana pahala dan dosa tidak mendapat tempat dalam koridor perilaku dan ucapan. Dimana segala budaya artifisial dan superfisial buatan manusia tidak mempunyai pengaruh apa pun terhadap pola pikir manusia dengan fitrah. Kita kembali suci, Mudik menjadi bayi yang baru dilahirkan.
Mudik secara spiritual - adalah salah satu pesan yang dibawa oleh proses puasa dan Iedul Fitri. Sejak hari pertama puasa, kita berjuang merintis langkah Mudik, untuk kembali ke Fitrah sebulan kemudian. Segala macam bekal kita siapkan, mulai dari taraweh, qiraat al Qur'an, dzikir dan sholat ditingkat, sedekah dilipatgandakan, dan seterusnya. Bekal-bekal mudik dalam rangka kembali ke fitrah itu, tidak disimpan dalam koper-koper besar dan kardus-kardus banyak seperti mudik fisik ke kamping halaman. Bekal mudik spiritual itu, lebih terlihat dari perubahan pola pikir dan perilaku yang lebih baik, lebih santun, lebih bertaqwa, lebih bisa mengendalikan diri. Mudik secara spiritual memerlukan proses perbaikan terus menerus, supaya setiap tahun bisa semakin bermutu mudiknya sehingga mencapai tujuan akhir : Mudik ke Fitrah yang tanpa dosa.
Selamat mudik deh.....
Melihat berita di TV tentang kesibukan dan segala aktivitas orang-orang yang pada mudik, ternyata mengasyik juga. Wajah-wajah lelah namun ceria dan bahagia, ada di mana-mana. Melihat sekian banyak manusia berdesak-desakan dan rebutan masuk angkutan umum seperti bis dan kapal laut, ternyata mengasyikkan juga. Melihat mobil-mobil pribadi yang dipenuhi ayah, ibu, dan anak-anak yang bersemangat meskipun menempuh perjalanan jauh. Melihat gerombolan sepeda motor yang dipenuhi muatan melaju menembus jalur Pantura.
Ada jutaan orang yang mudik dalam beberapa hari ke depan. Mudik secara fisik. Bertemu dengan handai tolan di kampung halaman, orang tua, tetangga, mantan pacar, dll. Ada banyak kenangan manis yang di-refresh dengan mudik. Ada banyak tali silaturahmi yang tersambung kembali dengan mudik. Ada banyak kebaikan dan hikmah yang tersimpan dalam ritual bernama Mudik.
Tapi mudik dalam kaitannya dengan Iedul Fitri, pastilah mempunyai makna yang jauh lebih luas - bukan sekedar berpeluh ria saat menmbawa badan dan oleh-oleh ke kampung halaman. Iedul Fitri sendiri adalah proses "Mudik kembali ke Fitrah". Puasa dan Iedul Fitri, membawa kita kembali ke titik nol di mana kita dilahirkan, ke titik di mana pahala dan dosa tidak mendapat tempat dalam koridor perilaku dan ucapan. Dimana segala budaya artifisial dan superfisial buatan manusia tidak mempunyai pengaruh apa pun terhadap pola pikir manusia dengan fitrah. Kita kembali suci, Mudik menjadi bayi yang baru dilahirkan.
Mudik secara spiritual - adalah salah satu pesan yang dibawa oleh proses puasa dan Iedul Fitri. Sejak hari pertama puasa, kita berjuang merintis langkah Mudik, untuk kembali ke Fitrah sebulan kemudian. Segala macam bekal kita siapkan, mulai dari taraweh, qiraat al Qur'an, dzikir dan sholat ditingkat, sedekah dilipatgandakan, dan seterusnya. Bekal-bekal mudik dalam rangka kembali ke fitrah itu, tidak disimpan dalam koper-koper besar dan kardus-kardus banyak seperti mudik fisik ke kamping halaman. Bekal mudik spiritual itu, lebih terlihat dari perubahan pola pikir dan perilaku yang lebih baik, lebih santun, lebih bertaqwa, lebih bisa mengendalikan diri. Mudik secara spiritual memerlukan proses perbaikan terus menerus, supaya setiap tahun bisa semakin bermutu mudiknya sehingga mencapai tujuan akhir : Mudik ke Fitrah yang tanpa dosa.
Selamat mudik deh.....

0 Comments:
Post a Comment
<< Home