Tuesday, September 06, 2005

Pesawat terbang

Begitu baca di www.detik.com kemarin siang berita tentang pesawat Mandala yang jatuh di Medan, saya cukup shock juga.

Pertama, Medan adalah kota tempat saya lama tinggal dan saya tahu persis bahwa sejak kira-kira tahun 1988-an, Bandara Polonia Medan sudah seharusnya direlokasi ke tempat lain yang lebih aman. Bandara Polonia terletak di jantung kota Medan, di mana sekelilingnya adalah pemukiman padat penduduk. Saya ingat sekitar tahun 1987-an, salah satu Plaza 7 tingkat didirikan sekitar 2 km dari Polonia Medan. Akhirnya Plaza tersebut "dipangkas" menjadi 4 tingkat saja, dengan alasan keamanan untuk lalu lintas pesawat yang akan take off maupun landing di Polonia. Artinya apa? Artinya adalah, bahwa sejak sekitar 20 tahun yang lalu, Bandara Polonia sudah diklasifikasikan tidak lagi layak berada di tempatnya karena sangat tidak aman. Cuma rencana relokasi ke luar kota Medan, hanya tinggal rencana. Belasan tahun berlalu, hingga saat ini Polonia tetap saja menjadi Bandara yang tidak layak menjadi Bandara Internasional, karena lokasi dan fasilitasnya yang tidak memadai.

Kedua, dari beberapa kecelakaan pesawat sebelumnya yang terjadi di Medan, hampir semuanya berakhir dengan sangat tragis dan korban jiwa yang cukup banyak. Thn 97 lalu, korban tewas lebih dari 200 orang, ketika pesawat Garuda menabrak gunung di daerah Sibayak, sebelum melakukan landing ke Polonia. Mungkin "feng shui" nya Bandara Polonia Medan saat ini, tidak baik. Perlu dilakukan analisa mendalam untuk itu.

Ketiga, trend Low Cost Carrier di industri penerbangan yang beberapa tahun terakhir ini mengalami booming, cenderung menjadi alasan meningkatnya resiko keselamatan pesawat, di mana sebagian perusahaan penerbangan, memangkas cost untuk tiket dengan , salah satunya, melakukan "kompromi" terhadap maintenance cost pesawat. Tetapi fakta ini belum tentu benar, karena Low Cost Carrier seperti Air Asia, terbukti survice dengan safety record yang excellent. Mereka bahkan bisa melakukan ekpansi bisnis dengan membeli puluhan pesawat baru untuk mengantisipasi kebutuhan bisnis mereka di masa depan. Artinya, belajar dari kesuksesan Air Asia nya Tony Fernandez, biaya bisa ditekan bukan dengan mengorbankan safety, tetapi dengan menerapkan management yang tepat, strategi bisnis yang jelas, kemampuan mengantisipasi pasar, dan visi dari top management mereka untuk melihat berbagai business opportunity di masa depan. Bisnis yang bagus, salah satu indikasi utamanya, adalah bisnis yang mempunyai growth trend. Sementara, di Indonesia, kelihatannya ada kesalahan mendasar dari beberapa perusahaan, khususnya dalam menerjemahkan konsep "low cost carrier". Low cost, diidentikkan dengan pemangkasan biaya dan mengurangi aktivitas, bukannya dengan meng-efisien-kan business process. Padahal, dengan meng-efisien-kan business process, seharusnya pada akhirnya akan didapatkan efisiensi cost, tanpa mengorbankan keselamatan dan perawatan. Hanya Lion Air, yang sejauh ini cukup sukses dari sisi bisnis, meskipun safety record mereka sejauh bisa dikatakan merah karena cukup ada beberapa accident yang melibatkan pesawat-pesawat Lion Air.

Jadi, apapun alasannya, di industri penerbangan, sudah seharusnya filosofi Safety First is our Concern, menjadi dasar untuk menentukan arahan bisnis. karena begitu track record mereka jelek, maka akan sangat sulit untuk kembali menaikkan citra perusahaannya di tengah persaingan bisnis yang sangat ketat.

Pada akhirnya, kita selaku customer, memang harus lebih bijak memilih.
Tapi kalau sudah takdir, memang gak bisa menghindar dari accident apa pun.

Apalagi kalo naik pesawat tua dari Sorowako ini.... bisa jantungan deh!!

0 Comments:

Post a Comment

<< Home