Wednesday, August 31, 2005

Kopi darat

Kemarin salah satu temen chatting gue, kopi darat ama salah satu temen chattingnya yang laen. Kayaknya seru juga ketemuan gitu, jadi tau aslinya kayak apa.
Jangan-jangan yang selama ini ngaku ganteng, rupanya malah rada mirip genteng. Atau yang selama ini mengaku cakep, ternyata mirip kecap... hehe...

Jadi perlu diverifikasi secara langsung penampakan makhluk yang selama ini kita kenal lewat icon-icon manis chat tools seperti Yahoo Messenger , MSN, ICQ atau yang lainnya. Kalo nggak ketemuan, padahal ada kesempatan, rasanya rugi banget. Apalagi buat temen chatting yang berjauhan lain kota lain pulau, kesempatan kopi darat gitu kan jarang-jarang ada.

Nggak usah ragu kalo mau ketemuan, apalagi kalo cewek, pasti banyak curiganya kalo diajak ketemu langsung. Atau malu kali kalo pas ketemu, jerawatnya sedang subur..hehe.. makanya cari alesan buat gak usah ketemuan.

Gue pernah nggak ya ketemuan ama temen chatting???
Pernah deh.. lebih dari sekali...
So far, it's OK. And they are still my friends...

Makanya, jangan takut donk... kan udah gede... -:)

Tuesday, August 30, 2005

Rupiah, nasibmu.... Indonesia... susahmu....

Rupiah sempat tembus 11.800 per US dollar hari ini.
Bayang-bayang krisis moneter 97 seolah muncul di depan mata, ketika rupiah terjun berbas terhadap dollar....
Tapi gue rasa, kali ini makin sulit. Saat harga minyak di atas 70 US dollar / barrel, defisit anggaran Indonesia udah pasti menggila. Dengan asumsi APBN harga minyak 40 USD /barrel, Indonesia udah pasti jungkir balik. Ditambah status Indonesia yang saat ini udah jadi negara net importir minyak....

Rasanya suram sekali masa depan negeri kita tercinta ini. Kelaparan jadi berita. Penyakit muncul. Koruptor bebas.

Rasanya, memang kita sudah kembali ke masa lalu....

Ke Indonesia yang terjajah oleh ketidakberdayaan....

Sunday, August 28, 2005

Hujan di pagi hari

Bangun tidur pagi ini, cuaca di luar masih agak cerah dengan sedikit mendung di langit. Tapi dalam waktu satu jam saja, tahu-tahu awan jadi menebal dan mendung tebal deh jadinya. Seperti biasa, kabut awan turun dan hujan pun turun. Kompleks rumah gue ini jadi seperti negeri di awan. Indah banget. Bukit di belakang rumah gue ditutupi kabut awan.... Danau di depan rumah juga ditutupi kabut awan yang turun rendah...
Udara jadi sejuk banget, buat laper aja.
Iklim global kayaknya beberapa tahun terakhir ini mengalami perubahan cukup drastis. Bulan-bulan dimana seharusnya menjadi masa kemarau, malah turun hujan terus menerus. Bulan yang seharusnya turun hujan, malah kering kerontang. Ternyata kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup manusia, aktivitas industri yang sangat boros pemakaian bahan bakar dan menghasilkan gas-gas yang menyumbang timbulnya efek rumah kaca di atmosfer bumi, pada gilirannya ternyata mengakibatkan perubahan iklim secara drastis.
Gak heran kalo negara maju seperti US, Jepang dan Uni Eropa, menginvestasikan uang milyaran dolar US untuk membangun sistem monitoring iklim yang canggih banget, lengkap dengan super komputer terbesar di dunia yang mampu melakukan simulasi iklim yang kompleks dan kalkulasi yang rumit, dengan relatif cepat.
Mesin-mesin super komputer dengan teknologi grid computing tercanggih, biasanya diaplikasikan pada simulasi iklim global, proyek-proyek rekayasa dan pemetaan genetis / DNA, simulasi nuklir, dan militer.
Jadi negara maju itu sudah berpikir jauh untuk mengantisipasi perubahan iklim global, dengan menginvestasikan duit milyaran dolar untuk riset dari sekarang.

Jadi jangan heran, bisa aja suatu saat nanti, iklim bisa di rekayasa oleh mereka-mereka yang punya teknologi. Misalkan kalo mau buat Indonesia susah, cukup diatur supaya hujan terus-menerus di jakarta selama 5 hari, bisa dipastikan Indonesia lumpuh dan jakarta tenggelam. Gak perlu kirim pesawat tempur atau rudal ke Indonesia, cukup kirim hujan yang sudah direkayasa.

Emangnya Indonesia bakal mampu beli payung raksasa?
Wong ngurus beras untuk orang miskin aja gak bisa gitu.....

Makanya, mumpun masih bisa menikmati hujan "normal" pagi ini, gue menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di teras rumah, menikmati sejuk dan beningnya butiran air hujan di pagi hari....

Sangat menyenangkan...... apalagi kalo didampingin wingko babat dan pengirimnya.. heeemmm... :)

Saturday, August 27, 2005

Siapa Penjajahnya???

Baca Kompas beberapa hari yang lalu... gue dapet satu kalimat menarik. Kalimat yang ditulis dengan latar belakang gambar pemukiman kumuh dan miskin di pinggiran kali Ciliwung...
"60 tahun Indonesia merdeka, 40% rakyatnya masih tertindas kemiskinan! Siapa penjajahnya??"

Kalo soal jajah menjajah, ternyata semua manusia sama saja. Dijajah sama bangsa lain, sudah pasti menyakitkan. Tapi dijajah sama bangsa sendiri, alangkah memalukan! Yang susahny lagi, penjajah sebangsa setanah air ini, justru manusia-manusia yang tiap hari mejeng and nampang di media massa, koran, TV, internet, seminar, upacara nasional, kawinan, olah raga, dll.....

Buat yang dijajah, udah jelas lebih gak enak lagi. Kalo dijajah londo atau nippon, masih bisa perang pake bambu runcing. Yang masih sengsara, kalo dijajah bangsa dewe alias bangsa sendiri.... Mau dilawan, ntar ditangkap aparat dengan tuduhan makar. Gak dilawan, makin banyak aja manusia miskin yang tertindas hidupnya dan hak-hak kemanusiaannya....

Penjajahan, apapun bentuknya, selalu meninggalkan korban dan penderitaan.
Apakah dijajah kemerdekaan untuk menentukan nasib sendiri, seperti ketika bangsa Indonesia dijajah para Londo dan Nippo, susah sangat menyakitkan? Jelas iya. Buktinya kita perang mati-matian beratus tahun untuk memperjuangkan hak kemerdekaan kita.

Tapi setelah merdeka pun, bahkan hingga 60 tahun seperti saat ini, kita masih terjajah secara sistematis oleh sistem dan oknum-oknum yang tidak punya nurani dan rasa malu. Sistem yang dibuat lebih merupakan eksploitasi manusia atas manusia lainnya, bagaimana manusia yang kuat dan culas, secara sistematis memeras habis manusia yang lemah dan bodoh.

Saat ini, kita dengan santainya, menonton berbagai bentuk "penjajahan-penjahahan" modern. Di televisi, di tempat kerja, di jalanan, dan lain-lain....
Dan sayangnya, banyak diantara kita dengan tanpa rasa kasihan, menganggap penjajahan-penjajahan itu sebagai konsekuensi dari kompetisi yang makin keras dari kehidupan ini.....

Hati nurani

Gue barusan nonton acara "Kejamnya Dunia" di TransTV... tentang ibu kandung yg menyiksa anak perempuannya sendiri yg berusia 5 tahun sampai mengalami trauma berat. Kejam banget!! Anak umur segitu jari-jarinya hangus dibakar dengan lilin. Kepalanya bengkak, mata mema, bibir pecah, kemaluannya dijepit tang, kaki tangannya dijepit ama penjepit besi, giginya dicabut pakai tang!! Masya Allah!! Itu perempuan penyiksa yang menyandang predikat termulia di muka bumi ini sebagai seorang IBU, memang sudah bukan lagi manusia di dalam dirinya. Dia sudah lebih kejam dari pada iblis. Iblis saja tidak sampai hati menyiksa anak keturunannya sendiri, makanya mereka menyiksa anak-anak manusia...
Manusia, apalagi yang namanya Ibu, pastilah diberikan kelebihan menyangkut kelembutan dan kasih sayang, khususnya kepada anak keturunan mereka sendiri...
Kasih ditebarkan kepada manusia lain, sedangkan Sayang, hanyalah milik orang-orang terdekat yang disayangi....
Lebih sederhana, Kasih adalah bersifat general, dan Sayang bersifat ekslusif....
Jika kita punya anak, pasti yang timbul adalah rasa kasih sayang. Melihat anak-anak usia pertumbuhan yang begitu polos dan lugu, sebagai manusia normal, pastilah timbul rasa kasih sayang. Hanya manusia yg sudah kehilangan sifat kemanusiaannya saja, yang tidak lagi memiliki naluri itu....
Makhluk yang menyiksa anak kandungnya sendiri hingga sedemikian rupa, sungguh, sangat pantas menurut gue, diberikan hukuman seberat-beratnya. Tanpa ampun!! Untuk apa kita memakai hati nurani kemanusiaan untuk menilai perilaku non-manusiawi seperti itu?

Kadang-kadang, kita perlu menanggalkan "hati nurani" untuk menghakimi orang lain yg "tidak punya hati nurani"....

Gue masih emosi soalnya.. kalo inget muka anak kecil tadi.....