Wednesday, December 07, 2005

Ketiban durian runtuh

Kemarin gue nonton berita di TV, liputan utamanya adalah soal re-shuffle terbatas kabinet yang dibentuk SBY. Salah satu yang menarik perhatian gue adalah kegembiraan keluarga salah seorang menteri yang baru diangkat. Sang istri yang sedang di rumah bersama beberapa keluarganya, berulang kali mengucap alhamdulillah dan senang dengan pengangkatan suaminya menjadi menteri.

Gue tersenyum sendiri. Senyum ironis sebetulnya, jika dipikir-pikir lebih jauh. Dalam beberapa hal, jabatan publik seperti menteri, yang diberikan berbagai fasilitas mewah dengan gaji wah, jelas membuat sebagian besar orang akan berbunga-bunga hatinya dan senang tidak kepalang. Namanya dapat fasilitas enak, masa harus pasang tampang muka sedih? Gue sendiri juga kalo ditawarin jadi menteri, tanpa mikir panjang pasti dengan gembira terima kasih kalo perlu sujud syukur....

Tapi..........

Gue jadi teringat salah satu tokoh paling hebat dalam sejarah manusia, khususnya perdaban Islam. Namanya Umar bin Khattab, salah satu sahabat Rasulullah yang paling terkemuka, paling disukai Allah, dan dijamin masuk surga oleh Allah. Kebetulan waktu SMA dulu, gue pernah dikasih hadiah buku yang menceritakan tentang karakter Umar bin Khattab. Salah satu karakter paling kuat dari Umar adalah, dia lelaki yang tidak kenal takut, lelaki keras luar dalam. Yang dia takuti hanyalah Allah. Selain Allah, Umar akan berdiri tegak menantang siapa pun yang menurutnya salah dan perlu diluruskan. Bahkan Umar adalah salah satu shahabat yg berani beradu argumen dengan rasulullah, dan akhirnya argumen Umar dibenarkan Allah lewat firman di Al Qur'an.

Al kisah, salah satu momen yang membuat Umar bin Khattab menangis dan ketakutan, adalah saat dia diangkat menjadi Khalifah ke dua pengganti Abu Bakar. Umar menangis dan takut, karena memikirkan beratnya beban amanah yang harus dia pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah atas posisinya sebagai Amirul Mu'minin, pemimpin utama umat Islam. Ada jutaan harapan dan amanah yang harus dia pertanggungjawabkan sebagai pemimpin, dan itu membuat Umar menangis karena khawatir. Bukan jabatan itu yang membuatnya gembira, tapi bagaimana bisa mengembankan amanah secara bertanggungjawab lah , yg menjadi pikirannya.

Dalam salah satu kisah, diceritakan kebiasaan Umar yang suka sendiri berjalan di malam hari, untuk melihat kondisi rakyatnya secara langsung. Di suatu malam, Umar berjalan kaki sendirian dengan perasaan puas melihat kehidupan rakyatnya yang cukup makmur. Ketika sedang berjalan di dekat sebuah rumah, tiba-tiba didengarnya tangisan anak-anak dari dalam rumah. Diam-diam mendekat dan melihat dari jendela apa yg terjadi. Seorang ibu sedang mengaduk panci dengan anaknya yang menangis karena lapar di pangkuannya. Sang ibu berusaha menenangkan anaknya sambil mengaduk makanan, hingga anaknya tertidur kelelahan.

Umar mengetuk pintu rumah dan menanyakan apa yang terjadi. Sang ibu adalah seorang janda, dimana suaminya mati syahid dalam peperangan dan harus membesarkan anaknya dalam kemiskinan. Dan yang dimasak saat itu ternyata adalah batu, bukan gandum. Si ibu ternyata sedang membohongi anaknya yg kelaparan karena tidak punya gandum untuk dimasak. Si Ibu sendiri tidak mengetahui kalau pria yang bertanya padanya saat ini adalah Umar bin Khattab, sang Amirul Mu'minin yang telah meruntuhkan Kekaisaran Romawi dan Persia.

Umar yang melihat kondisi tersebut sangat shock dan terpukul. Dia kembali pulang sambil menangis sepanjang jalan. Sepanjang jalan menuju istana, Umar berucap terus menerus kepada dirinya sambil menangis :"Wahai Umar, ada berapa banyak anak-anak kelaparan yang menuntut pertanggungjawaban mu kelak di akhirat!"

Umar pergi sendiri ke Baitul Maal, tempat penyimpan harta negara, mengambil sekarung gandum dan memikulnya sendiri untuk dibawa kembali ke rumah janda dgn anaknya yang kelaparan itu. Salah seorang pengawal yang kaget melihat pemimpinnya memikul karung gandum seorang diri, mencoba menawarkan diri membantu. Tapi Umar membentak dengan suara keras :" Apa kau yang akan memikul dosaku kelak karena amanah yang tidak bisa kupenuhi??"



Gue ingat banget dengan kisah itu, karena waktu bacanya, gue ikut menangis karena terharu dengan kebesaran jiwa seorang Umar bin Khattab, tokoh yang paling gue kagumi selama hidup. Bahwa menjadi pemimpin, adalah amanah yang sangat berat pertanggungjawabannya di hadapan Allah. bahwa menjadi pemimpin, adalah godaan yang bisa menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan.

Ironis, jika melihat kegembiraan orang-orang saat ini, yang ketika diberi jabatan seperti menteri, malah gembira karena memikirkan fasilitas duniawi yang melimpah. Padahal, kalo yang dipikirkan adalah bagaimana mempertanggungjawabkan amanah kelak di hadapan Allah, seharusnya mereka bisa bercermin dari seorang manusia bernama Umar bin Khattab....

1 Comments:

Blogger Dwilicious said...

saya juga masih sangat ingat kisah itu, dan memang sangat mengharukan (mata saya sempat basah) padahal saya bukan tipe orang yang mudah terharu.
Semoga Indonesia masih memiliki orang-orang seperti Umar bin Khatab, atau paling tidak kisah beliau akan memercikkan kebijakan kepada pendengarnya

Salam-
dwilicious-Love it

6:21 PM  

Post a Comment

<< Home