Sunday, October 30, 2005

PUISI - PUCUK HATI


Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang menantikan sentuhan lembut sang gerimis,
sebagaimana sentuhan lembut sang kekasih,
dingin menyegarkan jiwa kehausan.

Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang menyimpan seribu duka nestapa,
bagaikan gemulung awan gelap menjelang badai,
adakah tempias hati menjadi tempat mengadu?
ataukah harus kau berjalan lagi menembus lorong waktu,
dan terseok-seok di semak-semak jaman,
demi jiwa yang telah kau pilih,
untuk menduduki singgasana hatimu sepanjang musim?

Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang bunganya mekar di segala musim,
dan harumnya semerbak di sepanjang hari,
kaupun terdiam dan menangis,
tak hendakku terdiam menatap matamu yang resah tak berdaya,
dan getar lentik bulu matamu,
bukankah telah menggetarkan seluruh relung hatiku?

Kuceritakan padamu tentang pucuk hati,
yang masih terus menatap langit biru,
menunggu detak-detak jaman berlalu...

17/01/01

0 Comments:

Post a Comment

<< Home