Wednesday, January 25, 2006

Tampil beda

Untuk menjadi seorang yang sukses, katanya Anda harus tampil beda. Tampil beda di sini, bukan berarti cara dandan Anda yang beda, tapi keseluruhan diri Anda mencetuskan ide-ide yang berbeda. Bahasa kerennya, Breakthrough alias terobosan. Kalau Anda hanya mencetuskan ide-idea atau konsep-konsep dan cara kerja yang biasa, maka hasil yang akan Anda peroleh juga biasa-biasa saja. Perlu cara kerja, ide dan konsep yang luar biasa untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa.

Itu saya setuju.

Dulu saya pernah baca buku De Bono yang sangat terkenal, judulnya Berpikir Lateral. De Bono secara gamblang menjelaskan, bahwa kita harus merangsang otak dan indera kita untuk selalu ditempatkan dari berbagai perspektif yang berbeda terhadap suatu persoalan. Menganalisa segala kemungkinan yang bisa diambil, dan resiko dari segala kemungkinan itu, kemudian ambil yang terbaik, yang bisa menampilkan angle suatu persoalan secara unik tapi jitu.

Tapi, sekarang ini, saya melihat kebanyakan konsep tampil beda, hanya muncul di permukaan doank. Misalkan, kita lihat orang pake anting dengan gaya funky, rambut dicat warna warni dan dipotong unik, baju aneh-aneh, dll. Tampilan sih emang beda abis, tapi cara berpikir dan cara bertindaknya mah biasa aja. Tidak ada yang significant yang bisa dihasilkan dari hal-hal beda kayak gitu.

Atau ada seorang Haji munafik sok suci, yang ingin tampil dengan istri beda atau merasakan wanita yang berbeda, sehingga secara tidak bertanggung jawab mengobok-obok seorang Bidadari semaunya, dan kemudian meninggalkan aib begitu saja di muka sang Bidadari.

Memang mau tampil beda tuh susah.

Makanya Inul sukses, karena goyangan pantatnya yang beda sama yang lain.

Makanya mungkin, si Haji munafik sok suci jadi penasaran pengen merasakan bedanya goyangan pantat Inul dibandingkan yang lain.. hehehe

Oooppssss.... cukup sampe di sini yaaa.. hehehe

Thursday, January 19, 2006

IT - Open Source vs Open Dompet

Barusan gue terlibat diskusi dengan teman. Soal Linux, yang gratis (sebetulnya gak gratis sih, kan masih harus ganti biaya CD/DVD medianya.. hehehe), stabil, secure, bla..bla..bla. Pertanyaanya gampang, kenapa Linux yang gratis itu, kok nggak bisa laku keras di Indonesia? Sementara di luar negeri, popularitas Linux meningkat pesat. Misalkan di Munich Jerman, Pemda setempat melakukan migrasi puluhan ribu desktop nya dari Microsoft base ke Linux base. Dan Uni Eropa juga berencana menggunakan Linux sebagai aplikasi dan operating system mereka. Atau China, Korea dan Jepang , yang mengembangkan Linux untuk kebutuhan mereka dan mendapat dukungan penuh pemerintahnya.

Sementara kita?? Bagaimana nasib linux maupun jargon-jargon GOS alias Go Open Source? Rasanya cuma berhenti di level wacana alias omong di mulut doang tanpa aksi.

Siapa yang salah? Kenapa Linux gak laku di Indonesia?

Jawaban gampangnya :
Di Indonesia kan gampang cari bajakan, jadi beli CD Microsoft maupun Linux ya sama aja biayanya, ya mendingan beli Microsoft product yang user friendly dan banyak games yg bisa jalan di atas Windows platform donk! Apalagi kalo home user, ya mendingan beli Windows!

Jawaban lebih rumit :
Karena Linux tidak punya long term plan tentang arahan akan kemana perkembangan Linux akan dibawa. Menurut gue, ini salah satu hal paling mendasar yang seharusnya dibenahi oleh komunitas pengembang Linux. Banyak perusahaan besar yang ragu ber-investasi di Linux, karena ketidakpastian long term plan ini. Padahal, biasanya di perusahaan besar, investasi software biasanya untuk 3-5 tahun ke depannya sehingga mereka akan memutuskan pilihan based on pilihan-pilihan jaminan support dan pelayanan jangka panjang. Microsoft yang mempunyai mesin marketing yang hebat, bisa memainkan peranan sebagai ujung tombak pengenalan produk-produk Microsoft baik yang sekarang ada di pasar, maupun rencana pengembangan ke masa depan. Sentralisasi Research Center Microsoft di beberapa tempat tertentu ( China, India, Redmond), membantu efektifitas, kontrol dan efisiensi dalam pengembangan produk strategis.

Linux hanya bisa membanggakan kelebihan teknis yang menurut gue tidak cukup significant menarik user. Konsep utama yang ditawarkan Microsoft adalah User Friendly and easy to use to everybody. Karena pendekatan ini, terkesan produk microsoft kurang secure. Padahal secara teknis, Windows bisa di-configure sama secure nya dengan Linux, hanya saja aspek user friendly dan easy to use nya akan ter-kompensasi.

Microsoft juga aktif pengembangan partner mereka, sebagai perpanjangan tangan Microsoft dalam men-sosialisasikan dan menjual product nye ke end user. Microsoft technical partner, Microsoft Training Partner, dll - cukup efektif menjadikan product Microsoft bisa dipelajari oleh siapa saja. Ditambah dengan menu Help dari Micsoroft yang efektif dan efisien buat user, ini membuat product Microsoft menjadi pilihan yang masuk akal.

Sementara Linux, pengembangan aplikasinya tidak terkoordinasi dengan efektif. Setiap distro mengembangkan sendiri aplikasinya. Marketing strategy nya tidak ter-manage dengan baik, partner dan training partner yang terbatas, jaminan support dan maintenance yang tidak jelas, dokumentasi yang hanya mengandalkan How To saja, plus kurangnya pen-sosialisasi-an aplikasi unggulan Linux seperti OpenOffice.org, membuat Linux bagaikan berjalan tersendat-sendat dalam melakukan penetrasi ke home users untuk mendongkel hegemoni Microsoft yang sudah sangat kuat.

Saya tidak pendukung Linux ataupun Microsoft. Let the best products win the business war and we, as customer, will enjoy the best products with acceptable prices.

Tapi untuk saat ini, jika pilihan saya sih cukup simple.
Pilih Open Source atau Pilih Open Dompet?
Kalau saya berada di Indonesia, dan sedang ada di mangga dua, saya akan memilih Open Dompet, menarik selembar duit 50 ribu, dan membeli satu DVD software yang berisikan segala macam product microsoft di dalamnya.

Mari kita sosialiasikan Open Dompet!!