Almost all of us hate monday
Sekarang ini, ungkapan yang populer bagi orang bule, juga populer di Indonesia. Yang jelas, karena hari ini hari Senin, maka gue jadi inget kalimat terkenal "I hate Monday". Dan berhubung hari emang workload gue luar biasa gilenya, gue jadi merasakan makna hakiki dari kalimat "gue benci Senin".
Masalahnya, kelihatannya bukan cuma gue yg benci Monday... tapi kayaknya orang di sleuruh kantor ini pada benci Monday dengan segala rutinitasnya. Kenapa nggak Sunday aja terus, kan enak banget.... Kenapa kalender harus ada 7 hari berbeda? Coba kalo kalender insinya cuma hari Sabtu dan Minggu, kan enak banget tuh... hehehe...
So, gue yakin hampir semua orang benci Monday yang menyebalkan ini...
Tapi... apakah semua orang benci Monday?
Dulu, waktu gue masih kerja di Jakarta dan tenggelam dalam lalu lintas kesibukan jutaan manusia yang lalu lalang mengisi belantara Jakarta, gue sering melihat wajah-wajah manusia yang menatap kedatangan Monday dengan penuh semangat dan harapan. Wajah-wajah saudara kita, yang menggantungkan hidupnya dan hidup keluarganya, dari kesibukan kegiatan dari manusia lainnya. Setelah sabtu dan minggu yang sepi, dimana pendapatan mereka melorot - datanglah Monday dan rekan-rekannya sampai Friday - yang membawa harapan akan rejeki dan nafkah kehidupan yang lebih baik.
Wajah-wajah itu gue lihat di supir angkot, di pedagang asongan di perempatan jalan, pedagang kaki lima di trotoar berdebu, anak-anak kecil penyemir sepatu, dan lain-lain. Di wajah mereka, yang ada hanyalah Monday yang membawa peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk dibagikan bagi anak istri di rumah.
Gue jadi ingat tentang teori relativitas umum yang ditemukan oleh Einstein. Walaupun itu merupakan hukum fisika tentang gerak materi pada kecepatan sangat tinggi, teori itu juga sangat tepat dihubungkan dengan cara kita manusia, memandang segala sesuatu secara relatif. Dari kacamata agama, yang absolut hanya Allah Tuhan Semesta Alam. Selebihnya, yang ada hanyalah relativitas yang semu, dimana nilai suatu perbuatan atau suatu benda, berubah-ubah tergantung dari sudut pandang mana yang akan diambil.
Begitu juga saat gue menilai Monday yang membosankan ini...... pada saat gue terpaku dengan nilai absolut dari Monday yang membosankan ini, ada jutaan manusia lain yang sangat mencintai Monday, karena alasannya yang berbeda.
Masalahnya, kelihatannya bukan cuma gue yg benci Monday... tapi kayaknya orang di sleuruh kantor ini pada benci Monday dengan segala rutinitasnya. Kenapa nggak Sunday aja terus, kan enak banget.... Kenapa kalender harus ada 7 hari berbeda? Coba kalo kalender insinya cuma hari Sabtu dan Minggu, kan enak banget tuh... hehehe...
So, gue yakin hampir semua orang benci Monday yang menyebalkan ini...
Tapi... apakah semua orang benci Monday?
Dulu, waktu gue masih kerja di Jakarta dan tenggelam dalam lalu lintas kesibukan jutaan manusia yang lalu lalang mengisi belantara Jakarta, gue sering melihat wajah-wajah manusia yang menatap kedatangan Monday dengan penuh semangat dan harapan. Wajah-wajah saudara kita, yang menggantungkan hidupnya dan hidup keluarganya, dari kesibukan kegiatan dari manusia lainnya. Setelah sabtu dan minggu yang sepi, dimana pendapatan mereka melorot - datanglah Monday dan rekan-rekannya sampai Friday - yang membawa harapan akan rejeki dan nafkah kehidupan yang lebih baik.
Wajah-wajah itu gue lihat di supir angkot, di pedagang asongan di perempatan jalan, pedagang kaki lima di trotoar berdebu, anak-anak kecil penyemir sepatu, dan lain-lain. Di wajah mereka, yang ada hanyalah Monday yang membawa peluang untuk mendapatkan penghasilan lebih untuk dibagikan bagi anak istri di rumah.
Gue jadi ingat tentang teori relativitas umum yang ditemukan oleh Einstein. Walaupun itu merupakan hukum fisika tentang gerak materi pada kecepatan sangat tinggi, teori itu juga sangat tepat dihubungkan dengan cara kita manusia, memandang segala sesuatu secara relatif. Dari kacamata agama, yang absolut hanya Allah Tuhan Semesta Alam. Selebihnya, yang ada hanyalah relativitas yang semu, dimana nilai suatu perbuatan atau suatu benda, berubah-ubah tergantung dari sudut pandang mana yang akan diambil.
Begitu juga saat gue menilai Monday yang membosankan ini...... pada saat gue terpaku dengan nilai absolut dari Monday yang membosankan ini, ada jutaan manusia lain yang sangat mencintai Monday, karena alasannya yang berbeda.